Thursday, December 24, 2009

Good Morning


Good Morning #3 (Caca)

42x29.7 cm

watercolor on paper

2009

Ini 1 dari 5 karya yang saya buat untuk pameran We Hail We Sail from the Morning Glory Parade.

Gadis kecil ini namanya Carissa Namira Alifia, sepupu saya.

Suka kangen deh sama dia, anaknya bawel banget, suka bikin dongeng sendiri.

Ini saya gambar dari foto dia pas baru bangun tidur.

Dia pasti seneng banget saya gambar :)

Monday, December 21, 2009

Menghapus

Saya baru sadar, kalau ada barang di tempat pensil kita yang paling sering hilang dan paling sering kamu beli lagi, pasti penghapus.

Kenapa penghapus? Karena kita sering melakukan kesalahan, dan menghapus adalah shortcut untuk memperbaikinya. Tapi sadar gak kita, setiap menghapus, pasti ada sesuatu yang terkikis dan berkurang. Misalnya kertas yang kamu hapus jadi semakin tipis, atau pengapus kamu juga semakin kecil. Tidak ada yang tidak berkurang, tidak ada yang sama seperti sebelum kesalahan itu terjadi. Sama saja seperti ketika kamu menggali lubang, setiap menggali lubang, pasti ada tanah yang keluar dan harus di tempatkan di tempat lain. Jadi inti nya: Ada yang hilang dan ada yang timbul. Sama seperti negatif dan positif.

Mengapa kita sering menghapus? Karena kita suka kurang pertimbangan..? Mungkin.. Bisa juga karena kita tidak suka menanggulangi yang ada, contohnya: Kita lebih suka mentip-ex dari pada mencoretnya. Tapi apakah tulisan yang salah itu benar-benar hilang? Tidak, yang ada hanyalah warna putih palsu yang berbeda dengan warna kertas. Tapi kita lebih suka berpura-pura menganggap kalau tidak pernah ada tulisan disana dan menimpa putih yang baru tersebut.

Hidup itu tidak sama seperti tindakan-tindakan yang kita lakukan di komputer. Undo. Delete. Tidak seperti itu, lebih seperti. Face it kalau kita melakukan kesalahan, dan emang gak ada yang bisa kembali sediakala tanpa cacat. Menghilangkan memori buruk. Membuang pikiran buruk tentang sikap atau kejadian. Bukannya tidak butuh penghapus, tapi sebersih apakah penghapus itu berfungsi? Pasti tidak akan seputih kertas itu dulu, pasti ada yang terkikis, sakit. Kita manusia seperti kertas, merasakan setiap tinta atau grafit yang pernah di toreh. Dan untuk menghapusnya, tidak semudah Undo.

Saturday, November 14, 2009

Saturday, November 7, 2009

Seratus

Ternyata saya sudah menulis cukup banyak.
Awalnya dari Kelas 2 SMA. Sekarang udah kuliah tingkat 2.
Dulu masih belum tau arahnya kemana. Sekarang udah tau, tapi tau hal lain yang lebih berat dari yang dulu.
Dulu masih suka keliaran di tempat-tempat yang deket rumah. Sekarang bahkan makin males jalan-jalan.
Dulu mau masuk FSRD ITB. Sekarang udah keterima.
Dulu maunya jadi desainer produk (apa? Gambar Konstruk? AAAAAA). Sekarang mau jadi seniman.
Dulu cuma tau Jakarta. Sekarang sedikit ditambah pengetahuan tentang Bandung.
Dulu gak kenal. Sekarang jadi kenal.
Dulu cuma gitu aja. Sekarang jadi gini deh.
Dan seterusnya.

Friday, October 30, 2009

Memulai Magenta

Jika boleh memilih
Dimulai darimana
Maka akan magenta diawalnya

Lalu akan mengakhirinya dengan magenta lagi
Seperti do'a
Agar selalu menyenangkan dari awal hingga akhir

Mungkin ia bukan merah yang mentereng
Mungkin ia juga bukan ungu yang redup
Mungkin warna yang menggangu untuk matamu
Saya lebih suka mengeliminasi warna merah
Dan terus memakai magenta

Thursday, October 29, 2009

(Lukisan) #8

Judulnya cuma itu
Lukisannya juga abstrak
Tapi saya menyukainya
Tanpa tahu artinya
Sama sekali
Mungkin karena angkanya 8
Kesan bentuknya tanpa akhir
Berbeda dengan lukisan yang terjejer disamping-sampingnya
#1 #2...#7.....#17
Padahal biasanya lebih memilih angka ganjil
Mungkin karena warna hitam yang diatas
Mungkin karena sapuan warna kuning ditengahnya
Mungkin karena kesatuan semuanya
Mungkin karena saya tidak tahu artinya
Padahal mungkin pelukisnya tidak memberikan arti apapun
Mungkin saya yang terlalu terhipnotis
Mungkin karena ada tanda pagar di depan judulnya
Kesannya ada batasan
Antara yang sempurna dan tidak sempurna
Mungkin karena # dan 8 cocok berdampingan
Keduanya nampak simetris
Mungkin karena saya penasaran
Lalu memilih lama berdiri disitu
Berpikir untuk memecahkan teka-teki
Hingga akhirnya tahu bahwa tidak ada yang harus ditebak

Gambar-Gambar 2







Jangan tanya kenapa gambarnya kacamata semua

Sunday, October 25, 2009

Dobrunka dan Empat Musim

Waktu saya kecil, saya pernah dibelikan kumpulan buku dongeng yang ilustrasinya bagus banget. Nama ilustratornya Adrienne Segur. Ada 2 buku yang saya punya dengan illustrator dan penerbit asli yang sama. Yang pertama judulnya The Golden Book of Fairy Tales (versi Gramedia: Kumpulan cerita dongeng) Isi bukunya dongeng-dongeng Grimm dan Andersen, dan beberapa dongeng dunia. Saya ingat, hari dibelinya buku itu, di sebuah di Gramedia Book fair, saya masih TK dan sedang mengikuti lomba mewarnai yang diselenggarakan panitia yang bersangkutan. Saat ibu saya datang menjemput (ia membiarkan saya meninggalkan saya saat lomba), setelah lomba itu, ia tiba-tiba membawakan saya buku dongeng baru. Sepulang dari sana, telinga saya sakit, sepertinya kemasukan air, waktu berenang di hari sebelumnya.. Akhirnya saya cuma bisa menangis dan meringis dipangkuan ibu saya sepulangnya hari itu, sepanjang siang hingga sore. Ibu saya lalu membacakan satu demi satu semua dongeng yang ada. Ini covernya.



Saya suka ilustrasi di dongeng Bright, Deardeer, and Kit.


Buku yang kedua Judulnya L'Oiseau D'or et Autres Contes (versi Gramedia: Burung Emas dan cerita-cerita lainnya). Isinya tentang dongeng-dongeng Eropa Timur (contoh :Czech), yang selalu ada tokoh jahat bernama Baba Yaga dan juga dongeng modern. Saya dibelikan kakek saya ketika usia SD. Inget banget waktu itu dibeliinnya di Toko Buku Gunung Agung yang di Kwitang, yang depannya patung pak tani. Ini covernya.



Dalam satu dongengnya, Dobrunka dan Empat Musim (Twelve Months) ada kalimat penutup dongeng yang saya suka, sebuah pepatah:

winter at the door, summer in the barn, autumn in the cellar, and spring in the heart.


Dan sebuah gambar dari dongeng berjudul Tukang Sepatu yang berbahagia atau Le Marriage du Cordonnier (The Marriage of the Shoemaker) benar-benar terpatri diingatan sampai sekarang.


Tap, tap, la ri ra ding dong dengngggg.. Suara kegaduhan yang dibuat tukang sepatu ketika bekerja. Dan Putri Klaudia hanya bisa melihat dari jendela..

Sunday, October 18, 2009

Apsaras

Kemaren sepulang dari acara musik yang dibikin sama anak-anak kampus saya, yang menampilkan Jodi in The Morning Glory Parade dan mereka menyanyikan lagu kesukaan saya In your eyes (I see the moon) :), saya pulang naik angkot sama si Dyonk yang terpaksa keseret ke acara musik itu gara-gara saya. Pas pulang naik Caheum-Ciroyom ada seorang ibu muda dan anaknya. Sepertinya ibu itu baru pulang kerja, soalnya full make-up. Anak perempuannya yang berumur kira-kira 6 tahun terlihat letih. Disandarkan kepala mungilnya ke ke relung ibunya. Lalu si ibunya memeluknya. Heart-warming banget. Mungkin si kecil terlalu lelah hari itu menemani ibunya di tempat kerja. Lalu ketika melewati sebuah restoran di pinggir jalan, si anak memanggil-manggil ayahnya.. Mungkin ayahnya memang bekerja di situ..

Yak, ke topik ini lagi. Saya kepengen punya anak perempuan. Sepanjang jalan saya kepikiran sama itu, berkeluarga. Mungkin memang belum berkecukupan, mungkin memang belum punya ini itu, mungkin belum bisa semuanya terpenuhi, tapi.. setidaknya mereka saling memiliki, kan?

Oh iya.. Saya punya nama tambahan untuk si Jingga, yaitu Apsaras. Artinya bidadari dalam kepercayaan Agama Hindu. Apsaras Jingga. Hehe, bagus ya. Semoga saja anak perempuan itu jadi anak yang manis dan menyenangkan. Semoga saja Tuhan mau kasih Jingga untuk saya. Amin.

Sunday, October 11, 2009

Gambar-Gambar



Hoho daripada disimpen di sketchbook mending ditaro di blog, seenggaknya mama, papa dan adik-adik saya bisa liat (saya tahu mereka suka baca blog saya).

Saturday, October 10, 2009

Konspirasi (Updated)

Beberapa hari yang lalu, Om saya tiba-tiba sms: Saras, kalau mau tahu perstiwa dimana kemungkinan si Nansi berada di riak gelombangnya, baca liputan kusus koran Tempo hari ini (Senin).

Apa??? Mengagetkan

Terus saya bales sms: Aku udah kehabisan koran itu Om, emang disitu ada ada tulisan apa, Om?

Sms balasan: Disana ada tulisan mengenai pemusatan pasukan dan kegiatan di Senayan. Nansi (red-Kakek Bakir) pernah cerita bahwa dirinya pernah 'ditahan' di Senayan dan sempat melihat sang jenderal besar disana

Saya balas lagi: Jadi Kakek Bakir diwawancara? Ha?

Sms balasan: Bakir tidak diwawancara. Tapi, konteks dari kisah yang dia ceritain ke Om Bram ternyata benar ada, kalau baca dari tulisannya Tempo

Saya balas lagi: Jadi Nansi (entahlah tulisannya Nansi, Nan Xi. atau Nan Xie) itu ada atau nggak?

Sms balasan: Nansi nama kota 'rekaan' atau padanan kota sebenearnya di Cina. PKI saat itu didukung RRC.

Sehabis itu saya ngobrol-ngobrol sama temen kosan saya, Kak Arien. Dia bilang ada beneran kota yang namanya Nanxi (ya! ini ejaan yang sebenarnya!). Dia pernah menyusuri sejarah plat logam untuk kepentingan berkarya intaglio, dan asal-usulnya memang ada juga yang dari Nanxi ini.

Lalu saya googling dengan ejaan yang benar NANXI. Voila!
Nanxi terletak di tujuan Cina. Hal ini terletak di pusat negara bagian. Nanxi Administrasi jatuh di bawah wilayah Chongqing. Di kota Mei menunjuk sejumlah tempat-tempat wisata, seperti Three Gorges (Cina) km tentang 211, Wudang (Cina), km tentang 248, Wulingyuan (Cina) c. 252 km, Dazu Rock ukiran (Cina) km tentang 375, Chinese pyramids (Cina), km tentang 328, Piramida (Cina) c. 328 km, Imperial makam dari Kaisar Pertama (Cina) km tentang 365, Hua Mountain (Cina), km tentang 394. Informasi lebih lanjut tentang kota, kunjungi link di sebelah kiri terdekat atraksi. (CTU) Chengdu Shuangliu Intl Airport Bandara Internasional terletak dari Nanxi tentang 469 km.



Dan saya pun mulai mempercayai perkataan Kakek Bakir, minus tentang Ratu Pantai selatan dan Pil KB kadaluarsa.

Thursday, October 8, 2009

Tentang Kertas Seni

Waktu saya kecil umur-umur SD. Saya suka banget sama kertas daur ulang yang keren-keren yang dijual di Toko Buku Maruzen Pasaraya. Kayak ada semburat benang-benangnya, ada bunga-bunga kering pres dan lain-lain. Sampe di rumah langsung bikin, tapi hasilnya gak terlalu bagus.. Setelah dibikin jadi kartu lebaran dan natal yang diberikan ke teman-teman komplek, gak lama ada beberapa yang berjamur.. Mungkin karena waktu itu pake perekat alami yaitu lem kanji. Setelah masa itu berlalu dan kertas daur ulang menjadi hal yang biasa saja sekarang, tapi tetep gak ada yang sebagus di Maruzen waktu itu loh.. silakan di cek. Sekarang saya ambil kuliah pilihan Teknik Kertas Seni, dosennya namanya Pak Muksin. Suatu hari, ketika yang baru masuk kelas cuma 3 mahasiswa ada percakapan seperti ini.

Saya: Don, lo tau gak, jaman dulu ada kertas daur ulang yang bagus-bagus di Maruzen.
Dono: Ha? Gak tau deh gw
Pak Muksin: Itu saya yang masukin kesana. Toko Buku Maruzen yang di Pasaraya khan?
Saya: Oh itu bapak yang bikin? Saya suka banget loh Pak, saya coba bikin tapi gagal-gagal semua.. ya.. namanya juga anak kecil.


Sumpah ini aneh banget, tiba-tiba, saya bisa ikutan kuliah dari dosen yang bikin kertas-kertas spesifik yang saya maksud. Wah.. Ternyata memang takdir itu berjalan dengan cara yang aneh..

Sekelibat

Hari Sabtu lalu, saya senang sekali. Sepele sih. Pagi itu mau ke kampus untuk nyetak tugas. Di jalan ketemu sama bapak-bapak 40 tahun yang kacamatanya sangat kekinian kayaknya Ray Ban gitu, tapi warnanya coklat kayak motif leopard. Bapak ini tampangnya kayak orang jepang. Tergopoh-gopoh bawa barang belanjaan. Terus saya liatin kacamatanya.. Terus bapak itu tiba-tiba senyum ke saya. Lalu saya ketemu sama bapak ojek langganan yang lagi gak narik, dia juga senyum sama saya.. Habis itu papasan sama dua kakak adik anak laki-laki yang bajunya kembaran lagi jail-jailan di jalan. Hmm.. Kadang hal-hal kecil bisa bikin hari kita lebih baik.

Monday, September 21, 2009

Permintaan kepada Monyet Bersayap

Kalau saya memiliki topi piala emas milik Dorothy
Dan permintaan hanya tinggal diucapkan setelah menggumamkan
Ep-pe, pep-pe, kak-ke!
Hil-lo, hol-lo, hel-lo!
Ziz-zy, zuz-zy, zik!
Dalam sekejap, kumpulan monyet bersayap akan datang
Saya akan minta permintaan pertama saya
Apakah itu?
Ra-Ha-Si-A!
Tapi permintaan kedua tentunya adalah
Menjadikan permintaan pertama itu rahasia
Dan permintaan ketiga itu adalah
Membiarkan monyet-monyet melakukan keinginannya sendiri
Lelah bukan selalu mengabulkan permintaan orang lain?

Tuesday, September 15, 2009

Saran Untuk Dorothy

Jangan percaya Glinda, dia pembohong
Pakailah sepatu rubi merah
Nanti kalau sudah sampai disana
Ikuti saja jalan berbata kuning
Kalau di jalan bertemu orang-orangan sawah, bilang saja:
Kau tak butuh otak untuk kepalamu yang penuh jerami apek
Kalau di jalan bertemu dengan si kaleng, bilang saja:
Kau tak butuh hati di rongga kalengmu, urusi saja karat yang mulai muncul!
Kalau bertemu dengan si singa penakut, bilang saja:
Kau tak butuh keberanian, bahkan aumanmu sudah semakin mirip dengan cicitan tikus
Kalau sudah sampai di istana emerald, ketuk pintu dulu
Jika bertemu dengan penyihir Oz, titip salam untuknya
Ia teman baikku
Oh iya, kalau Toto anjing kecilmu mulai menyusahkan, tinggalkan saja dia bersama monyet-monyet bersayap

Monday, September 14, 2009

Buatan Sendiri

Waktu masih SMA, saya sering ke toko buku Gramedia Matraman. Letaknya dekat dengan sekolah saya yang berada di Salemba, sekali naik angkot nyampe. Kalau mau jalan juga deket kok. Kayak dari gerbang depan ke gerbang belakang ITB. Jauh sebelum Gramedia Matraman direnovasi menjadi seperti sekarang, ada seorang kakek-kakek peniup suling yang biasanya duduk di emperan depan Gramedia. Biasanya dia memainkan lagu soundtrack KDI. Entah kenapa..

Ia punya banyak jenis seruling dari yang Yamaha warna gading, yang warna biru tosca transparant (aduh sampe sekarang saya belom kesampaian beli, padahal suka banget..), sama beberapa pipa paralon yang dibolongi. Tapi yang paling sering ia mainkan adalah si pipa paralon. Suatu hari saya tanya, "Pak, kenapa pake seruling paralon? kan Bapak punya seruling yang bagus..". Lalu jawabnya, "Suaranya lebih bagus yang paralon, Mbak". Oh.. Baiklah.. Saya mengerti, barang buatan sendiri memang lebih spesial, lebih punya unsur personal. Cuma orang yang memakainya yang mengerti.

Sebelum Lebaran tahun itu, saya tanya ke kakek itu, "Bapak rumahnya dimana, Pak?". Katanya, "Saya di Kramat Sentiong, Mbak". Saya tanya lagi, "Asli Jakarta, Pak?". Jawabnya lagi, "Nggak, Mbak. Nanti Lebaran saya pulang kampung." Sehabis Lebaran, saya hendak menemuinya lagi, tapi Ia sudah tidak pernah datang lagi kesitu. Mungkin sudah pulang kampung dan tidak kembali. Lagipula, Gramedianya sudah menjadi terlalu megah. Semoga Kakek itu diberkahi dimanapun ia berada sekarang :)

Konspirasi

Ada seorang kakek, Kakek Bakir namanya. Beliau bukan siapa-siapa di keluarga kami. Tapi eksistensinya selalu saja punya bagian kecil di keluarga kami. Ia adalah orang yang diasuh sama kakek buyut saya, disekolahkan hingga SMP di Brebes sana. Lalu sempat membantu-bantu di keluarga nenek saya di Jakarta. Hingga pada suatu saat ada bagian di dalam hidupnya yang terlalu aneh. Sepertinya dia sempat stress waktu muda. Setiap kali bertemu dengannya, disela-sela kebiasaannya yang selalu menawarkan asuransi Bumi Putera (umurnya sudah 60an loh..), ia suka bercerita tentang konspirasi PKI dan Nan Xie (ini juga saya nebak masalah penulisan Nan Xie itu).

Waktu muda, ia sempat bekerja di Gelora Bung Karno, bekerja di penginapan atlet disana. Itu juga dengan bantuan keluarga Kami (saya belom ada waktu itu). Ia bercerita saat September itu, tempat ia bekerja diserbu TNI dan Pak Harto menjadi komandannya. Ia sempat diculik katanya, perkaranya tentang PKI. Entah benar atau tidak. Sepertinya Ia punya memori yang telah dimanipulasi. Lalu menurutnya ada sebuah kota di RRC yang merupakan sumber komunis yang berkembang di Indonesia, namanya Kota Nan Xie. Nah.. Orang -orang disana memproduksi pil KB yang berisi racun, yang gunanya memusnahkan umat manusia, karena terlalu padatnya dunia, katanya "Orang di RT saya sudah meninggal 6 orang lo, Mbak.. Ini bahaya ini". Bahkan katanya pada tahun 2010 populasi manusia di Indonesia akan turun drastis akibat Nan Xie ini. Setelah googling, ternyata gak ada kota yang namanya Nan Xie, Nan Xie adalah nama orang. Kalau Kota Nanking ada dan ada kejadian Nanking Massacre di wikipedia. Apa ada hubungannya ya? Belom lagi katanya ada konspirasi Nan Xie dengan Ratu Pantai Selatan. Astaga, saya gak ngerti darimana kakek ini mendapatkan ide konspirasi seperti itu.

Saya sudah sering mendengar konpirasi freemasonry, 2012, dan Atlantis. Tapi konspirasi Nan Xie? Yang biasanya mau mengerti dan peduli masalah Kakek Bakir ini cuma saya dan Om saya, Om Bram. Cuma Kami yang mau mendengarkan dengan seksama. Kalau menurut om saya, masalah penculikan itu mungkin adalah fakta , mungkin memang Kakek Bakir sempat aktif di organisasi PKI underground. Dan waktu diinterograsi, mungkin sekali seseorang yang tertekan mengarang cerita-cerita fiktif guna melindungi diri. Saya suka sedih melihat Kakek Bakir yang selalu sendirian. Ia bahkan tidak punya istri, pasti hari-harinya sepi.. Sesekali ke rumah kakek saya ketika Lebaran.

:(

Mungkin ini namanya kecewa
Saya tahu
Kamu dan saya saling tahu
Tapi kenapa tak bisa bilang?
Karena saya kontrol sosialmu?
Tapi saya kecewa
Kita seperti dibatasi dinding imaginer
Saya tahu apa yang kamu lakukan
Begitu juga kamu tahu apa yang saya lakukan
Tapi terus menabrak setiap mendekat
Sedih
:'(
Tapi mau bagaimana lagi?
Kita sudah terlalu lama berbagi cerita
:')

Sunday, September 13, 2009

I paint flowers so they will not die

Ini quote dari Frida Kahlo. Iya, Frida Kahlo yang terkenal itu. Kamu pasti tahu lah.. Seringkali saya merasakan hal itu. Lebih baik diabadikan dalam bentuk gambar, dibanding harus dipetik, lebih baik diabadikan dalam bentuk gambar (maupun lukisan) daripada dalam bentuk foto. Kenapa? Saya percaya, setiap kali kita berusaha menggambar suatu benda, still life, saat itu juga, kita berusaha menangkap spirit dari objek itu. Kalau Frida Kahlo bilang, "I paint flowers so they will not die", itu benar, karena setiap bunga yang berusaha kamu gambar, warna, bentuk dan imagenya akan tertangkap terus berdiam di benakmu. Seakan-akan mereka hidup dalam dirimu.

Begitu pula dengan apapun yang kamu gambar. Memang membosankan menggambar still life, tapi dengan menggambar still life, berarti mentolerir keberadaan benda lain di sekitar kita, berusaha mengerti mereka dan keberadaan mereka di dunia ini.

Daripada memetik bunga yang sebaiknya hidup dan berfungsi dalam ekosistem, lebih baik digambar. Kenapa tidak dengan foto? Terlalu instant, menurut saya memfoto sama dengan shortcut. Kita mengambil jalan pintas dengan mengcapturenya dengan bantuan alat lain, bukan dengan lensa kita sendiri. Kenapa begitu? Dengan lensa yang kita miliki dan dengan olahan visual dari mata ke otak hingga menyangkut emosi ketika itu juga, kita berbagi dengan objek kita, bunga itu. Mengolah dengan manusiawi berarti mematuhi peran kita sebagai manusia, untuk mengerti alam ini.

Saya ingat, ketika masih tingkat 1, kami mahasiswa tingkat 1 belajar menggambar kuda. Sekarang setiap melihat gambar itu, saya teringat hari itu, hari dimana kami semua semangat menggambar kuda di kampus dengan gelak tawa teman-teman, kuda yang bau. Kuda yang bisa membuat hari yang menyenangkan. Kuda yang kurus dan sepertinya stress, namun bertingkah lucu. Hingga kini terekam di memori saya. Mengerti struktur kuda, gesturenya dan selipan tingkah yang lucu dan kelebatan tawa teman-teman saya. Ya, memori itu hidup di benak saya.

Saya percaya, setiap kali kita mengabadikan karya tuhan, sama saja kita semakin beriman kepadanya. Betapa sulitnya membuat tampilan visual bahkan hanya kelopak bunga. Bagaimana dengan sistem yang membuat bunga itu hidup. Bagaimana dengan manusia? Dengan proporsinya yang sulit. Tuhan memang maha pencipta. Bersyukurlah kita masih diperbolehkan meminjam keindahan ciptaan-Nya dalam karya yang kita buat.

Tapi terkadang dengan desakan waktu dan berbagai hal, foto memfoto dahulu memang lebih memudahkan. :) Saya mengerti sekali masalah itu.

Thursday, September 10, 2009

Belajar

Kuliah baru jalan 3 minggu, tapi saya sudah dapet banyak pelajaran baru. Kuliah di seni rupa ini ternyata banyak banget ngasih saya hal-hal baru. Hidup di bumi ini, manusia terus belajar. Saya kadang suka merasa bosan belajar hal yang sama terus menerus. Tapi, semenjak masuk tingkat 2 ini. Rasanya ada tamparan keras buat saya. Saya ternyata belum memaknai apapun.

Saya tidak dekat dengan alam. Bagi saya, sepanjang saya tidak membuang sampah sembarangan sudah cukup. Pohon adalah properti yang diciptakan oleh Tuhan, semacam benda artisitik penunjang. Begitu pula dengan tanah, hanya sesuatu untuk dipijak, dan dengan mistiknya adalah intisari dari manusia, disebutkan dalam kitab suci. Global warming itu adalah omongan di koran, di majalah dan sering hanya menjadi sebatas slogan maupun pernak-pernik GO GREEN yang cukup maksa. Melengos kalo ditawarin masuk organisasi pencinta lingkungan.

Belajar manual membuat saya sadar. Cetakan yang setiap kali kita terima, mungkin brosur, mungkn fotokopian, mungkin juga buku, adalah shortcut. Benda-benda pakai yang kita kenakan dibuat masal menggunakan mesin-mesin industri. Kemarin saya baru dengar suatu hal: Kini kita hidup di dunia yang dilipat, sering melupakan proses.

Belajar mencetak manual di studio grafis, belajar bikin matriksnya dari papan kayu. Kayak mengingatkan saya dengan jelas. Tuhan kasih kita media untuk berkarya. Kayu itu punya nilai bagi kamu, Saras. Kayu itu punya sifat, kayu itu layak kamu hargai. Ia bisa hidup denganmu, layaknya juga kamu layak hidup dengannya. Lalu saya mengambil kuliah keramik pilihan. Tanah itu bernilai. Membuat barang seperti mangkok yang biasanya kamu temui dalam bentuk melamin bergambar itu tidak mudah. Tanah harus diolah, dengan tanganmu yang sombong. Yang tak tahu nilai alam. Tanah itu bisa bercerita banyak, sama seperti kertas yang biasanya kamu coret-coret sembarangan, lalu dibuang. Menyikapi tanah yang liat seperti menyikapi dirimu sendiri. Susah.

Belajar membuat karya dengan media kayu, rasanya benar-benar membuat saya malu dengannya, dengan kayu itu. Hei kami hidup disekitarmu, tapi kamu baru mau bersentuhan dengan kami sekarang? Tanah yang saya coba bikin menjadi bentukan-bentukan baru, seakan-akan mencemooh saya, Kamu lupa kalau kami juga bisa dibentuk dan diperlakukan dengan baik, bukan cuma untuk kamu injak?

Semuanya nampak nyata sekarang. Saya jadi sadar.

Menyikapi kayu, berbeda dengan menyikapi kertas HVS. Menyikapi tanah berbeda dengan menyikapi plastik melamin.

Belajar disini, membuat saya mau belajar banyak hal lagi. Belajar memperbaiki diri dan banyak persepsi sembrono.

Puisi Kikuk

Kikuk

Kok rasanya jadi buruk

Jadi suka terbatuk

Kikuk

Saya jadi merasa suntuk

Padahal dalam hati

Sepertinya ada lagu yang mengalun berulang

Padahal dalam benak

Sepertinya ada ingatan akan bahagia

Tapi kelihatannya malah kikuk

Ternyata......

Nyata

Friday, July 31, 2009

Eyang Kung



Dua hari yang lalu saya nonton film UP dari Disney-Pixar. Filmnya bagus banget. Menyentuh sekali. Tentang Kakek bernama Carl Fredericksen yang ingin mewujudkan impian mendiang istrinya, Ellie. Sumpah. Film ini sedihnya keterlaluan. Bagusnya keterlaluan. Menurut saya lebih bagus dari Wall-e.

Film ini sangat manusiawi. Ceritanya indah.

Pas lagi nonton itu saya inget sama Kakek saya, Eyang Kung Hardiman. Usianya kini 78. Iya gak ,Yang? Aku lupa. Eyang kung gak pernah alpha dari hidup saya. Eyang kung suka mengisi TTS Kompas hari Minggu dan suka Beli majalah Tempo sendirian setiap hari Senin. Eyang Kung mengajari saya untuk rajin membaca semenjak kecil.. Saya pernah dibeliin buku cerita 5 sekaligus waktu dapet rangking 1 di kelas 3. Beliau kini telah pensiun dari Depnaker, sekarang sibuk jadi konsultan di PNGas. Suka minta tolongin ngetikin kerjaannya pake komputer, soalnya beliau gak bisa pake komputer. Bisanya pake mesin tik biasa. Walaupun sudah tua, Eyang tetap rajin bekerja, walau terkadang harus berangkat senidiri naik bus tanpa dianterin Mas Topo supir keluarga saya.

Semenjak Eyang Putri (Eyang Mia, begitu saya memanggilnya) meninggal 3 tahun yang lalu, Eyang kung tinggal di Rawamangun bersama keluarga saya. Pas lagi nonton film UP, saya jadi sedih. Keinget eyang kung yang pasti juga sedih harus hidup tanpa eyang Mia yang biasanya nyerewetin dia. Sekarang Eyang Kung harus tidur sendirian di kamar atas. Bukan di kamarnya yang dulu di Cempaka Putih. Harus berbagi acara televisi di rumah kami, gak kayak waktu di rumahnya sendiri.. Banyak yang terjadi di keluarga Kami, banyak hal yang telah membuat eyang sedih.. Saya suka ngegap beliau ngelamun di kursi halaman belakang. Jadi ikutan sedih juga. Pengen rasanya bersumpah serapah kepada orang-orang itu. Orang-orang yang membuat Eyang kung banyak pikiran di hari tuanya.

Eyang kung selalu makan pake kecap. Beliau paling gak suka makan ikan. Paling suka makan bebek goreng. Gak boleh makan kambing sama duren, nanti darah tingginya kumat. Tapi Eyang kung suka bandel juga, kalo saya lagi pulang ke rumah, beliau suka mentraktir duren beli di TOTAL Buah Segar. Saya tau, uang yang eyang dapet itu gak banyak, tapi beliau selalu saja, memaksa mentraktir saya makan enak dan nonton bioskop.

Pernah waktu masih awal-awal kuliah, Eyang kung dateng ke Bandung, ada seminar. Eyang kung mengunjungi saya di kosan. Cuma sebentar, terus ngasih uang jajan, tapi terlalu banyak menurut saya.. Saya bilang gak usah, saya udah cukup kaya dengan uang dari papa :). Tapi eyang kung maksa sambil senyum-senyum. Terus Eyang pulang naik travel. Pas eyang pulang, saya langsung nangis.

Kalo lagi di rumah, saya suka ngeledekin beliau mirip Jusuf Kalla, terus dia bete. Soalnya dia milihnya SBY. Terus ngeledekin dia dengan sebutan Romo Hardiman dari seminari di Semarang, abisnya mukanya itu lo.. Tentram damai, persis romo-romo yang ada di siraman agama Katholik tiap Minggu siang.

Saya gak tau kalo sampe-sampe eyang kenapa-kenapa. Saya gak siap. Saya gak siap kalo Allah menghendaki itu. Saya mau, Eyang ada di hari Wisuda saya.. Saya mau dia ada di pernikahan saya.. Saya mau dia ada terus disamping saya sampai nanti-nanti. Eyang Kung yang dari dulu sukanya becanda-becandain saya. Eyang Kung yang tabah di hari meninggalnya Eyang Mia. Oh saya mulai menangis. Tuhan, tolong jaga Eyang kung terus di Jakarta. Saya kangen dia terus.

Friday, July 24, 2009

Apa yang Mereka Tulis

Lagi iseng-iseng, jadi pengen berbagi kejadian konyol yang saya dan teman-teman saya lakukan. Ini mereka posting di blog mereka. Jadi saya copy paste aja.

Ini dari blognya Mahdi

saat jam kuliah
PINOKIO
  • di tengah suasana asistensi 3d mixmedia
  • me: adoh, gw haruscari barang barang dari kayu nih. ayo tom sebutin barang barang terbuat dari kayu
  • sartom: lemari
  • me: yang laen, ayo cepet cepet
  • sartom: pinokio
  • me: %^$#@!*&!$%
saat pertandingan SR cup
ANOTHER CURLY GUY
  • me: michael! michael! michael!
  • sartom: mana michael?
  • me: ituu ituu yg depan gawang
  • sartom: oh itu michael, kirain gw orang keriting biasa..
  • me: %@!#$*&^%$
Ini pernah foto bareng mahdi waktu pembukaan Fine Art and Design International Confrence “The Shifting from Traditional to Contemporary Visual Culture” 19 - 20 of JUNE 2009. Dateng cuma mau ngeliat temen-temen kita jadi model ngebantuin anak Kriya.


Ini dari blognya Ghina

S. Ratu Rizkitasari Saraswati
1) Is this person taller than you?
Nope.
2) Do you enjoy spending time with him/her?
Iya, kecuali saat-saat dimana dia sudah mulai in a rush. Haha...
3) Do they live close to you?
Kosannya rada jauh sih.. tapi herannya dia sering menggrebeg kosan gw pada saat yang tak terduga.

Sartom: Ghin, himpunan di ITB yang lambangnya bintang merah terus background-nya item apaan ya?
Gw: (Rada bingung) Lah, ya KMSR lah..
Sartom: (Wajah sumringah) Yak! Anda telah ikut kuis tapi Anda tidak sadar sedang mengikutinya (nunjuk ke salah satu sudut kamar gw) disana ada kamera, disana juga... KENA DEH!
Gw: ....
(Sartom dan lelucon andalannya)


Kisah Dua Penipu di SSC
Sore-sore, gw sama Sartom berniat ke McD demi membeli McFlurry Caramel Crunch yang ternyata sangat adiktif. Bahaya. Terus kita lewat Jalan Sumur Bandung, lewat depan SSC dan Sartom tiba-tiba punya ide jahil. Gw setuju dan kita masuk kesana. Berdua pasang tampang lugu sok muda khas anak SMA (yang sudah ditinggalkan setahun yang lalu, atau dalam kasus gw DUA tahun) dan bicara dengan logat Sunda yang FAIL and FAKE banget. Heuheu...

Gw: Sore Pak, mau tanya-tanya.
Bapaknya: Oh boleh-boleh silahkan.
Sartom: Iya Pak mau tanya soal program lesnya.
Bapaknya: (Ngasi katalog) Ini kalo intensif segini segini segini..
Dari SMA mana ya?
Gw: (Gw dan Sartom terdiam sejenak) SMA 20 Pak (entah mengapa kepikiran SMA 20).
Bapaknya: Oo.. pernah ikut-ikut les gitu?
Sartom: Pernah sih Pak
Gw: Iya dari sekolah ada les (ngasal) terus juga privat tapi berhenti
Bapaknya: Pengen masuk apa?
Gw: ITB Pak.. Teknik Fisika hehe..
Sartom: ???
Bapaknya: Wah... udah pernah tryout? Dapet poin berapa?
Gw: (Dengan sok tersipu) Udah Pak.. Tapi hehehe.. yaa... hehe.. ngga bagus deh hasilnya..
Sartom:
Bapaknya: Oh.. haha.. mau lewat USM apa SNMPTN?
Gw dan Sartom: Haha, dua-duanya Pak. Asal masuk..
Bapaknya: Pilihannya apa emangnya?
Gw: Saya Teknik Fisika, Geologi, sama FSRD
Sartom: Saya FSRD.
Bapaknya: FSRD? Tesnya gampang kan?

(Pada titik ini gw dan Sartom merasa tersinggung)

Gw: Wahhh Pak, susah kali Pak tes FSRD.
Sartom: (Dengan nada kelelahan) Wuih iya Pak, soal-soal nggambarnya susah banget. Apalagi ada tes IQ sama skolastik segala..
Bapaknya: Oh.. (angguk-angguk)
Gw: Oh ya Pak dari SSC yang taun lalu masuk ITB banyak?
Bapaknya: (Ngeluarin katalog lain) Ini daftar namanya..

(Gw dan Sartom melihat suatu nama familiar... yang merupakan mantan si Sartom)

Gw: OH! Ini kan kakak kelas kita Tom!
Sartom: (Menggeram rendah penuh arti) Ah.. iya kakak kelas.. mantan gw...
Gw: Ohoho..
Bapaknya: (mesem-mesem)
Gw: (Berniat terlihat keren) Sebenernya saya udah keterima SIMAK UI si Pak
Bapaknya: Oh ya! Dimana?
Gw: Pilihan kedua sih tapinya. Psikologi.
Bapaknya: Wah hebat! Pilihan pertama apa emang?
Gw: Arsitektur (geblek, gw ga tau SIMAK UI ga bisa milih IPA-IPS, cuma bisa IPA-IPA IPS-IPS)
Bapaknya: (Terdiam sebentar, entah takjub, entah merasa ditipu) Wah hebat.. kan passing grade-nya tinggi. Kok tapi pengen ITB?
Gw: Yaaa.. saya suka itung-itungan sih Pak..
Sartom: Yaa.. kemauan orang tua, Bapak tau lah..
Bapaknya: Ooo...
Sartom: Mari ya Pak, kami harus diskusi dulu dengan orang tua mengenai biayanya..
Bapaknya: Oh ya baik-baik..

Akhirnya kami pamit dengan perasaan puas dan terbahak-bahak.

Bertemu Tatib

Selese kuliah, gw sama Sartom ke Ciwalk karena udah janjian sama Bang Adri alias AMIK (anak keramik, huakaka.. panggilan zaman Binmer yang bikin gw ga tau nama sebenernya Bang Adri sampe gw masuk kuliah) buat nonton X-Men Origins: Wolverine. Udah janjian dari kapan tau, tapi baru sempetnya sekarang. Gw ngajak Ines sama Chica juga. Terus gw sama Sartom ke XXI duluan buat beliin tiket. Gak taunya pas kita ngantri jeng jeng jeng... ketemu sama tatib banyak banget yang ngantri tiket di sebelah kita. Rame-rame gitu dan gw langsung lirik-lirik pengen nyapa. Tapi mereka lagi ngobrol, jadi ya sudahlah... gw beli tiket, kebetulan deret paling belakang tengah masi kosong. Ya udah gw pesen lima sederet.

Bang Adri dateng belakangan, dia ngobrol-ngobrol sama tatib bentar dan ternyata tatib-tatibnya juga nonton X-Men. Okelah kalo begitu, kita berlima masuk, yang TPB rada celingukan pengen tau tatib duduknya dimana. Karena gelap gak keliatan dan akhirnya kita duduk. Setelah duduk (gw paling pinggir deket lorong), anak-anak pada kasak-kusuk. Ternyata kita duduk sederet sama tatib. Hahaha... (Posisinya adalah seperti ini: anak-anak, saya, Bang Adri, tatib-tatib. Superstress)

Erika Oh Erika
Anak ITB yang demen dateng ke acara-acara musik ITB pasti tau band OSD Tambang, yang suka bawain lagu-lagu dangdut kocak. Lagu yang notable dari mereka (seenggaknya bagi gw) itu lagu 'Erika'. Pertama kali denger pas closing Olimpiade ITB dan gw kurang ngeh juga sama penampilan mereka (karena insiden kecil yang cukup heboh), cuma denger-denger sepotong dengan setengah sebel karena insiden itu. Yang gw tangkep lagunya rada cabul (anjis lebay). Kedua kali dengerin pas Ganesha Harmonic, dengan konsentrasi tinggi bareng temen-temen. Lagunya sukses membayangi gw dan Sahabat Publikasi (=)) naon.. garing abis namanya) anak publikasi.

Goyang Erika luar biasa
Lebar pinggulnya nyaris sedepa
Bila disenggolnya celana pasti terbuka
Walau sudah janda sempitnya masih terasa

Bagaimana? =)) Gw sama Sartom bolak-balik nyanyi lagu itu terus, pas bagian itu sampe anak-anak pada gak tahan.

Sampai pada hari Selasa, kuliah Gambar Bentuk. Gw sama Sartom mo ke kamar mandi, lewat lorong sambil nyanyi-nyanyi "Goyang Erika luar biasa... goyang Erika luar biasa...". Di ujung lorong ada ruang dosen kan, pintunya kebuka. Pas kita nyanyi, Pak Bambang nengok sambil ngeliatin kita. Gw sama Sartom langsung diem, tanpa firasat apapun. Gw ama Sartom ke kamar mandi, masih sambil nyanyi-nyanyi lagu itu di WC. Pas gw lagi di WC, nyanyi-nyanyi, kata anak-anak ternyata ada kakak cantik dosen muda yang juga di dalem WC. Gw cuma "Ups, jadi malu," tanpa rasa bersalah berlebihan.

Tetapi.........

Belakangan gw tau kalo dosen muda itu namanya Kak Erika.
Serta......................... Kak Erika anaknya Pak Bambang.
(Kalau yang saya ingat, pas lagi mulai kuliah. Dosennya ada yang bilang gini, "Bagi mahasiswa yang belom UTS gambar model diharap menghubungi Mbak Erika di depan". Sumpah saya KAGET.)


COMBO DUMBNESS! HA!


It’s early morning. My friend Sartom slept in my place, we haven’t taken a bath yet, don’t care about out messy hair or our ugly tees and shorts. Lol, totally random




Ini dari blognya Ninda

AFTER PARTY

Ya gue dateng dengan stelan kaos merah putih labschool dengan jaket abu-abu, dan crocs silver, terus nonton aja band-band yang tampil hahaha
seru lah, pas I'a tampil again lah para cewek2 langsung duduk di depan huahahaha. seru dan konyol deh hari itu. Anos dengan bendera sartomnya, dan lalu sartom datang dengan logo space toon karena hari itu temanya space. Tapi abis itu kita nonton video wisudaan yang wow gila keren banget thanks to divisi dokumentasi. Gila, real treasure!


ini saya sama ninda pernah foto di laptopnya pas lagi jam-jam kuliah



klo yang ini di foto-foto fb

foto wisuda 1

terus ada foto wisudaan 2. hehe




terus ada juga foto wisuda 3 (tapi cuma dikitan gini yang foto, anak medik doank)



sekian.

Puisi Terulang

Sebelum tidurnya
Ia berbicara kepada langit-langit
Wahai langit-langit, mengapa tak ingin jadi langit?
Terpuruknya nasibmu
Lalu dijawabnya
Aku ingin lebih dekat denganmu ketimbang berjauhan

Ditanyanya lagi
Wahai langit-langit, inginkah sebening langit pagi dan sekelam langit malam?
Sedihnya engkau hanya putih retak dan bernoda hujan
Aku senang hanya begini, asal bisa melindungimu dari hujan dan terik serta mendoakanmu dalam tidurmu

Ditanyanya lagi
Wahai langit-langit, mengapa kau senang bersahaja ketimbang memakai jubah bertabur kilau bintang layaknya langit malam atau bersinar keemasan menyilaukan layaknya langit siang?
Bagiku tak pantas, alangkah congkak
Kalaupun boleh, mungkin aku mau meminjam jubah jingga temaram dengan semburat nila langit sore
Agar aku bisa menentramkanmu

Katanya lagi
Aku mengerti
Kau memang bernilai lebih
Dari apapun
Ia pun beranjak tidur
Mengatupkan mata
Seraya tersenyum
Ia tau, ia aman dalam lelapnya
Ia tahu langit-langit itu akan ada untuknya
Ia tahu langit-langit itu.... Akan ia sukai





Hati-hati menaruh hati
Karena hati itu seperti kaca
Kau tentu tak mau melihat matanya berkaca-kaca
Kecuali ia hanya mata-mata
Karena itu tandanya ada yang pecah berkeping-keping
Keping mana yang kau mau?
Yang tajam-tajam menusuk jari-jemari penenun kain sehingga darahnya merusak pola-pola yang tercipta
Atau yang tumpul hingga membuat otakmu kayak otak-otak malahan membuat tubuhmu biru-biru dan matamu lebam-lebam
Oh
Keduanya pilihan yang sama-sama
Makanya hati-hati
Tak terlihatkah rambu-rambu disana?
Apakah kau kelewat rabun?
Susah ya dilafalkan?
Sudah kubilang otakmu telah berubah jadi tak-otak
Makanya hati-hati

Tuesday, July 21, 2009

Bahasa Papa yang Ajaib

Ayah saya, Papa, begitu saya menyebutnya. Suka punya bahasa sendiri. Kata-kata aneh yang gak bisa dimengerti. Entah didapetnya dari mana. Katanya sih kalo katanya sih.. Di Serang, Banten, kampungnya dia, bahasa kayak begitu mah bisa dimengerti. Tapi entah kenapa. Saya suka kesel kalo denger kata-kata itu. Abis terlalu aneh untuk ditangkap telinga.

KLONYOM

Artinya: Berminyak
Contoh penggunaan dalam percakapan sehari-hari: Raihan, keramas dong. Itu rambut kamu, udah klonyom gitu.

NGENYOY

Artinya: Empuk membal-membal
Contoh penggunaan dalam percakapan sehari-hari: Aduh Teteh.. Enak banget ya tidur terus gitu di kasur.. Ngenyoy nih

WAKWEK (e dibaca seperti e pada kata kepompong)
Artinya: Rakus dan sigap
Contoh penggunaan dalam percakapan sehari-hari: Teteh, makannya jangan wakwek gitu donk, inget-inget yang lain, Eyang belom makan lho.

KUNSIDU
Artinya: Dukun
Contoh penggunaan dalam percakapan sehari-hari: Ya ampun, itu restoran bebeknya laku banget ya. Keterlaluan, orang yang dateng sampe kayak laler gitu. Papa curiga tuh, dia pake kunsidu.


HAHAHAHAHA.
Aneh banget khan ya..

Ayo donk, yang lainnya share di comment, ada bahasa aneh apa aja di rumah Kamu!

Lelucon Cuma Kami Bertiga yang Mengerti

Kami disini adalah saya dan kedua adik saya Lia dan Raihan. Entah kenapa, Kami punya lelucon aneh yang cuma Kami bertiga yang ngerti. Kayak begini nih contohnya.

Saya: Han, emang khan.. Yoghurt yang paling enak tuh Sour Sally. Rasanya lebih enak khan daripada Heavenly Blush atau J. Cool?!

Raihan: Ha?

Saya: Iya! Sour Sally emang paling enak daripada yang lain?! Kalo yang lain.. (Belom selesai ngomong, eh si Raihan langsung motong)

Raihan: HAOM! (Mengikuti suara auman singa)


Lain kali


Raihan: Teteh Lia, ih, nyebelin, masa aku gak boleh main internet! Aku khan dari kemaren belom main internet. Teteh Ayas tuh yang main terus sampe malem!

Lia: Ha?

Raihan: AKU MAU MAIN INTERNET TEEEEEEHHHH!! Aku khan dari kemaren belom main in.. (Belom selesai ngomong, Lia nyamber)

Lia: HAOM!


Tapi emang gak lelucon ini gak bisa diterapin sama orang-orang lain, soalnya bisa menyebabkan kekesalan tingkat tinggi.

Thursday, June 25, 2009

Pengen Punya Anak Perempuan

Hari ini saya menonton kedua adik sepupu saya pentas di TMII. Seneng banget rasanya ngeliat anak-anak kecil gitu.. Kayaknya mukanya seneng terus. Anak TK memang belom punya beban hidup. Saya ingat, waktu TK, saya suka banget ngegambar hal yang sama berulang-ulang kali. Waktu itu pernah ngegambar ruang angkasa sampe sepuluh kali. Berusaha sekuat tenaga biar satu sama lain gambarnya sama dan presisi. Lalu, semua gambar itu saya kasih ke temen-temen TK saya, yang saya sukai waktu itu. Makanya saya kepingin semua gambarnya berkualitas sama.. Biar semuanya dapet hal yang sama bagusnya.. he he he. Itulah salah satu kenapa saya pengen banget masuk Seni Grafis. Soalnya karyanya bisa jadi banyak. Aduh naif sekali gadis ini.

Ngomong-ngomong, saya kepengen banget deh punya anak perempuan. Kayaknya asik punya anak kecil yang bisa didandanin. Gak tau kenapa, saya emang gampang banget akrab sama anak kecil. Gak tau kenapa, setiap ada anak kecil di sekitar saya, mereka suka banget cari perhatian ke saya. Apa saya kayak badut gitu kali ya, sampe diliatin segitunya. Ngomong-ngomong saya benci badut. Anak perempuan itu lucu banget.. Saya pengen anak saya nanti dikasih nama Jingga. Tapi kasian banget ya nanti dia, dipanggilnya kayak gini, "Sini lo, Jing!". Ha ha ha, nak, maafkan saja calon ibumu ini.

Saya pernah nih ngegambar si 'Jingga' ini. Dia cute khan.. hehe. Memang ya, kalau jadi orang tua, pasti ingin ada sedikit bagian darinya ada di si anak. Saya nanti kayaknya gak akan menuntut dia banyak. Untuk pintar ini itu. Asalkan kamu bisa gambar saja, nak, Ibu sudah senang. Haha.. Sampai ketemu nanti ya, Jingga! Semoga Tuhan kasih Kamu buat saya..

color pencil on paper A4 size

Saturday, June 20, 2009

Hal Paling Canggih Tahun Ini!

1. Saya ber IP 3,72 ber IPK 3,39
2. Masuk di program studi Seni Murni (tapi sayang belom dijurusin studionya.. semoga dapet seni grafis, amiiin.)
3. Adik saya diterima di Psikologi UGM
4. 2 Sahabat saya diterima di prodi yang diinginkan, Raditya Mahdi masuk Desain Interior (memang sudah saya perkirakan dari dulu..), Gini Arimbi masuk Teknik Sipil.
5. Dapat banyak teman-teman baik di Seni Rupa 2008

Friday, June 19, 2009

Porcelain Jellyfish


waw waw waw.
Ini karya Alissa Coe dan Carly Waito, orang Canada. Gak sengaja saya temukan ketika mencari gambar ubur-ubur untuk gambar saya selanjutnya. Bagus ya karyanya, gak kebayang sesuatu yang serumit itu bisa direalisasikan tangan manusia dalam bentuk patung porselen. Good work, guys!

Wednesday, June 17, 2009

Tahap Perjuangan Bersama

Menggambar dengan cat air

Nirmana 2d Ruang

Ini posting tentang tahun pertama saya kuliah di FSRD ITB. Tahun pertama disebut TPB, Tahap Persiapan Bersama. Tahun yang berat bagi kami semua, 2008. Lelah yang bisa bikin kami marah jika ada orang-orang fakultas lain yang menganggap kuliah kami gampang, dengan komentar-komentar nyinyir mereka tentang studi kami, yang katanya 'cuma ngegambar doang'. Biar saya jelaskan. Tugas Kami, nirmana 2 dimensi contohnya, bisa dikerjakan 3 hari 3 malam tanpa tidur. Tanpa boleh ada satu kealphaan sama sekali. Tidak ada gradasi warna loncat, tidak ada cat terlalu encer atau terlalu kental yang menghasilkan kualitas warna berbeda, tidak ada cipratan-cipratan melenceng dari rencana. Kami berusaha keras untuk itu. Dan kalian tahu, bahkan ketika kamu sudah tidak tidur begitu, nilaimu belum tentu bagus, bahkan bisa saja dicela dosen didepan kelas, di depan 200 mahasiswa lainnya.

Mari review semuanya dari segi akademik dan non akademik.

Mata kuliah utama Kami, dibagi jadi dua, Gambar dan Rupa Dasar. Gambar terdiri dari Gambar Bentuk dan Gambar Konstruktif. Sedangkan Rupa Dasar terdiri dari Nirmana 2 dimensi dan nirmana 3 dimensi. Nirmana. Ibu saya sering menyebutnya menjadi nirwana, Mama, nirmana itu bukan surga. Neraka lebih tepat. Tapi akhirnya saya suka juga, ya iyalah. semester ini dapet A gitu.. hehe.

Format nirmana 2d selalu 40x40cm. Saya merasakan kurikulum yang kami dapatkan tertata dengan baik. Pelajaran Nirmana dimulai dari sesuatu yang sederhana yaitu garis. Bertahap menjadi berbagai bentukan lain. Bahkan bentukan bayangan di akhir semester 2. Nirmana ini butuh yang namanya intelektualitas absurd mengenai komposisi, irama, aksen dan hal-hal lainnya yang gak akan terbayang waktu SMA. Pelajaran ini membutuhkan CAT POSTER SAKURA. Abis-abis deh duit lo. Harga cat poster naik terus, bung. Untung sekarang saya udah gak butuh lagi. Nirmana ini bisa bikin gila. Contohnya waktu saya bikin nirmana tekstur dari benang yang di potong-potong, bikin 6 step warna. Benang dipotong-potong lalu ditempelkan di kertas stiker. Sampe mampus. Sampe gila. Kamar kosan bertaburkan guntingan benang kecil dan kertas kuning sisa stiker. Bahkan disela-sela toples biskuit saya, ada benang warna turquoise. Lapar udah makin gak terasa, eh, tiba-tiba tangan saya udah mulai tremor. Gila.
Pencapaian nirmana terbaik saya 90 untuk tugas besar, 95 untuk UAS. Paling jelek pernah dapet 61 pas UAS semester 1, 1 angkatan rata-rata dikasih 60an semua. Sadis.

Nirmana 3d, gak kalah susahnya sama nirmana 2d, nirmana 3d ini menuntut sense-sense aneh mengenai bentukan ruang. Mulai dari 3d kertas, diakhiri dengan 3d mix media di semester 2. Kalau ngomongin 3d paling ribet tuh Nirmana sedotan. Kalu dihitug-hitung saya beli 30 bungkus sedotan buat menyelesaikan tugas itu. Sedotan-sedotan ini disusun dengan menggunakan kuncian-kuncian simple namun canggih yang gak akan kamu ketahui dalam dunia nyata, lebay haha. Waktu nyelesain tugas ini saya sampe gak tidur, udah kayak robot, tangan gak berhenti menggunting dan menyusun. Tugas terakhir kami Mix media, ini tugas gokil banget dah. Kita nyari barang bekas. Dari Cihapit ke Tegalega, semua disusurin sama anak-anak. Dari mesin tik bekas sampe sepatu roda bekas ada semua. Wah, ini tugas bener-bener bikin bingung. Tugas yang paling bikin pegel itu nirmana Gips. Beuh.. Amplas terus ampe tua.. Pencapaian terbaik saya 88 untuk gips itu. hehe.

Nirmana, baik 2d dan 3d menuntut proses yang panjang, Kami perlu proses asistensi denagn dosen maupun asisten dosen. Prosesnya bisa berminggu-minggu. Pertama-tama kami harus mencari bentukan modulernya lalu konsep keseluruhannya.

Gambar bentuk. Gambar bentuk ini pelajaran kesukaan saya. Fun banget setiap hari Selasa. Pertama-tama kuliah gambar bentuk disuruh gambar daun aja kok susah ya.. Paling seru waktu kita disuruh gambar binatang di Kebon Binatang Bandung. Waktu saya mau ngegambar berang-berang, berang-berangnya heboh menghampiri saya, saya kaget dan semua kertas sketsa jatuh di parit yang mengelilingi kandangnya. Saya berang karena berang-berang. Akhirnya saya menggambar burung pelikan. Burung pelikan diliat-liat gak ada bagus-bagusnya, saya jadi iri sama yang ngegambar burung merak. Huh. Rata-rata yang ngegambar pelikan gak ada yang dapet bagus. Yaiya lah ya, burung pelikannya aja sebagai objek gak ada bagus-bagusnya buat digambar.. Semester 2 udah mulai ngegambar model. WEW, disinilah saya terseok-seok. Susah banget, man! Saya emang kayaknya gak bakan di bagian ini. Then, kita gambar suasana pake cat air! weeeee... yippeee.. asik... Ini yang paling asik, nilai saya bagus-bagus pas nyampe sini. Pencapaian terbaik saya 92 untuk gambar bentuk, pas lagi cat air.


Gambar konstruktif. Buat orang seperti saya yang tidak suka keteraturan dan tidak bisa rapih, ini adalah mata pelajaran tersulit. wah Hari Rabu hari siksaan buat saya. Susye banget buat rapih. Udah gitu boring bgt gambar-gambarnya kayak proyeksi orthogonal. Bentuk-bentuknya semacam bangun ruang yang udah dimodifikasi. Untung makin ke belakang gambar konstruk lebih asik. Soalnya kita udah belajar gambar mobil yang proporsi. Sangat berguna! 19 tahun saya hidup di dunia baru kali ini bisa ngegambar mobil dengan benar. Tugas yang paling susah itu ngegambar Aula Timur. Wah, keliengan-keliengan deh lo. Palangnya banyak banget, mana ada lengkungan-lengkungan yang susah buat dibikin presisi lagi. PRESISI. THAT'S THE KEY WORD. Pas lagi belajar perspektif ruang ini, saya dan teman-teman saya sering mengutuki orang-orang yang mendesain ITB dengan begitu ribetnya. 'Adoh, ini orang gak ada kerjaan banget sih bikin palang-palang kayu segitu ribetnya. Ini khan cuma buat pilar-pilar outdoor.' Terus, 'Ini siapa sih yang bikin desain kayak gini!' ARGH . Begitu kira-kira. Terakhir-terakhir udah ngegambar bangunan. Gambar mesjid salaman pake charcoal pake cat air. Gambat Gedung Biologi pake cat air. ckc ck ck. Pencapaian terbaik saya 95 untuk gambar salman cat air.

Fiuh. Akademik itu ribet banget men. Rasanya pengen cerita lebih banyak lagi, tapi capek ngetiknya. Yang jelas, Kami belajar dari ilmu yan paling mudah lalu merangkak ke yang lebih sulit, step bye step dengan sangat peka disusunya kurikulum Kami hingga tak ada yang terlewat dan berguna banyak bagi Kami.

Non akademik disini maksudnya kerja-kerja buat wisudaan dan berbagai kegiatan lainnya. Wisudaan itu seru banget! Kita bikin suatu performing art buat khalayak ramai. Wisudaan ini yang bikin saya capek, senang, sedih, kesel, mau tereak-tereak, bangga, dll. Wisudaan bikin saya jarang pulang ke kosan. Atau paling gak bisa pulang sih.. tapi jam 1an gitu, ato gak ya.. balik pagi. Kalau mau tau lebih banyak tentang nginep di kampus, bisa dibaca di posting TIPS MENGINAP DI KAMPUS. Malam-malam di kampus diwarnai dengan lawakan-lawakan garing yang bisa bikin ngakak sampe gak ngantuk, tangan-tangan kebeset bambu, aci-aci mengering di tangan, kebelet pipis tengah malem, tapi kok takut sendirian ke toilet, rasa resah tugas belom jadi.

Wisuda pertama Kami, AZTEC. Kami membawa ratusan masyarakat Aztec ke Plaza Widya. Membuat kuil dengan totem ditengahnya. Membuat kostum yang superbagus. Tapi propertinya yaaa, masih kurang banget sih. Aztec bikin Kami kenal 1 angkatan, bikin Kami sadar apa yang ada di depan Kami. Tantangan yang begitu Besar. Wisuda kedua Kami, Semut. Kami membawa puluhan semut warna-warni ke Plaza widya. Lengkap dengan trenggiling setinggi gedung Labtek! Wah itu massive banget. Wisuda 2 bikin 2008 semakin kompak. Mural Cigondewah bikin kami dekat dengan masyarakat, untuk menjadi mahasiswa yang tidak angkuh.

Saya inget waktu malam penyambutan 2008, kali pertama Kami bertemu Masyarakat Seni Rupa. Itu bikin saya bener-bener shock. Inilah Seni rupa. Saya ingat kata-kata senior saya, 'Jangan main-main. Ini seni rupa, Bung!'. Dan yang paling baru-baru ini Inisiasi. BEUH. Dapet Badge KMSR, jadi bagian dari KMSR. Ini semua berarti buat saya, perjuangan Kami selama 1 tahun. Untuk bisa diterima di gedung itu (kami gak kuliah di gedung SR, kuliah buat anak TPB di di ruang TPB FSRD, Gedung Mekanika Tanah Lantai 3).

Saya bangga jadi bagian dari angkatan ini. Atas semua tawa yang kami bagi, untuk semua keringat yang mengucur, bahkan untuk tangis kesal yang sempat menggelinang, hingga tangis bahagia di Lapangan Merah saat malam inisiasi. Terima kasih utuk semua senior, saya mengerti sekarang. Untuk para wali, tatib, swasta, alumni, semuanya.

Kuliah di Seni Rupa bukan hanya masalah akademik saja. Kalau kamu menyia-nyiakan tahun pertama ini untuk jadi indivisualis, itu adalah sebuah kerugian. Bukan mudah untuk menyeimbangkan keduanya, tapi kalau kamu bisa, itu adalah hal yang hebat dan bisa dibanggakan bagi dirimu sendiri.



Seni Rupa ITB 2008





Pamer ah: semester ini Gambar sama Rupdas saya dapet A. Yippe. Semoga masuk seni grafis. Amiiin..

Selamat tinggal TPB. Selamat datang Seni Rupa. Selamat datang tantangan baru! Mari berjuang lagi!

Friday, June 12, 2009

WAW

Tisa Granicia
I'm a Hunter
Ceramics Sculpture

hmm.. nice sculpture!
Love it!

hm... sepertinya asik masuk seni keramik :)

Saya suka karya ini. Sangat feminim, namun punya satu statement yang kuat.
Ahh.. apasih saya sok tahu. Perupanya, Tisa Granicia, merupakan alumus Seni Keramik ITB angkatan 2000. Saya suka sekali karya ini, seperti halnya saya menyukai fairy tale. Terimakasih untuk perupanya yang begitu hebat hingga membuat karya yang menawan.

Monday, May 25, 2009

As mad as a hatter

color pencil on paper a4 size

Ini adalah gambar saya yang sedang berkostum Madhatter (dalam bahasa Indonesia: Gendeng Penopi, kata si Ghina). Madhatter ini adalah tokoh seseorang dengan gangguan jiwa dalam Alice' s Adventures in Wondeland. Errr.. sepertinya saya tergila-gila dengan tokoh tokoh dalam buku dongeng.

Cerita tentang Perdu Berbunga Merah Jambon

Di sebuah tepian sungai
Tumbuh perdu-perdu dengan bunga berwarna merah jambon
Ada seorang gadis yang suka meniup daun-daunnya dengan di katupkan diantara bibirnya
Daun itu menciptakan sebuah melodi

Lain hari
Seorang pemuda dengan penuh amarah mencabuti perdu-perdu itu
Tak disisakan barang sedikit

Lain hari
Seorang kakek menaburkan benih
Dengan diiringi senandungnya yang lirih, benih-benih itu tumbuh

Lain hari
Seekor musang liar mengencingi perdu baru itu
Bunganya yang berwarna merah jambon seketika berubah jadi hitam
Baunya tak karuan

Lain hari
Pemuda pemarah yang waktu itu datang membawa gadisnya
Diajarkannya meniup daun
Daun itu begitu bau
Busuk sekali
Daunya tak mau berbunyi

Lain hari
Gadis peniup daun menemukan perdunya berubah
Ia menangis
Tetes tangisnya membuat langit ikut bersedih
Seketika hujan turun
Dan perdu itu kembali seperti semula

Lain hari
Kakek membawa nenek kesana
Mereka bertamasya
Nenek bahagia disaat-saat terakhirnya
Nenek meninggal disana
Kakek menangis tersedu
Diputuskannya nenek akan dikubur dekat perdu kesayangannya

Lain hari
Si gadis memetik daun
Di setiap nadanya ada pesan rindu dari nenek
Seketika gadis itu menangis

Lain hari
Kakek datang berziarah
Bersamanya seorang pemuda tampan
Cucunya dari desa lain
Cucu kesayangan nenek

Lain hari
Gadis itu kesana dan bertemu seorang pemuda
Cucu nenek yang tampan sedang berziarah
Gadis itu meniup daun perdu
Pemuda itu terperangah
Jatuh hati kepada gadis peniup daun

Lain hari
Mereka menikah
Kakek bahagia, telah bertambah anggota keluarganya
Gadis dan pemuda itu bahagia
Begitu pula dengan perdu berbunga merah jambon

Puisi yang Terlintas Saat Melamun

Manik-manik
Kecil
Berkilau
Diuntai jadi tasbih atau jadi kalung?
Jadi tasbih guna mengingat ilahi
Jadi kalung guna menghias diri yang kelewat rombeng
Jadi apa maunya?
Kulihat manik-manik di mata itu
Iri rasanya
Manik-manik
Aku mau mata itu
Mata bermanik-manik
Manik-manik
Lucu pelafalannya
Manik-manik baru akan berkilau bila ada sinar
Ah.. Saya tak mau jadi manik-manik
Saya tidak butuh sinar lain untuk jadi istimewa
Bergantung pada hal lain
Jangan begitu lah
Sinar itu harus datang dari dalam sini kan?
Kilaumu jangan dari sinar lain
Kau bisa berusaha sendiri kan?

Masih ingat ketika kita buat pesawat kertas bersama?
Kupilih kertas warna lembayung
Kau tak mau
Kau bilang kelewat sendu
Dipilihnya kertas warna merah
Aku benci warna merah
Mengingatkan akan luka yang tertoreh
Kuambil kertas merah itu dari tanganya
Kurobek jadi sobekan-sobekan kecil
Biarkan aku memakai kertas lembayung
Kutinggalkan dia sendiri ditemani sobekan
Aku bahagia denagn kertas lembayungku

Saya melihatnya
Kupu-kupu dengan sayap biru dan lembayung dengan bercak-bercak hitam
Persis kesukaan saya
Saya mencoba menangkapnya
Satu kepak
Satu langkah
Dua kepak
Dua langkah
Tiga kepak
Tiga langkah
Pergi terbang
Saya kejar
Diam
Saya mengendap
Namun saya takut menyergapnya
Khawatir sayapnya akan patah
Lebih baik digambar saja
Lebih bertahan lama

Sebuh tembok imaginer
Tak kasat mata bagi pendosa
Setiap kali kuberjalan
Selalu menabraknya
Tembok itu berpindah, pikirku
Lain hari
Aku berjalan dengan penuh awas
Sekali lagi luput
Terjerembab jatuh
Tapi tak tahu mengapa
Kuraba sesuatu yang solid
Ah lagi-lagi tembok itu
Lain hari aku berjalan berjinjit pelan-pelan
Pendengaran kupertajam
Sekali lagi luput
Terantuk hingga berdarah
Kuketuk angin di depanku
Ah lagi-lagi tembok itu
Tak kutemukan cara untuk mengelabuinya
Tak kutemukan cara untukmengelaknya
Mengapa tak berhenti jadi pendosa?

Saturday, May 16, 2009

A Girl with Kaleidoscope Eyes

Watercolor on paper A2 size


Lucy in the Sky with Diamonds

Picture yourself in a boat on a river,
With tangerine trees and marmalade skies
Somebody calls you, you answer quite slowly,
A girl with kaleidoscope eyes.
Cellophane flowers of yellow and green,
Towering over your head.
Look for the girl with the sun in her eyes,
And she's gone.
Lucy in the sky with diamonds.
Follow her down to a bridge by a fountain
Where rocking horse people eat marshmellow pies,
Everyone smiles as you drift past the flowers,
That grow so incredibly high.
Newspaper taxis appear on the shore,
Waiting to take you away.
Climb in the back with your head in the clouds,
And you're gone.
Lucy in the sky with diamonds,
Picture yourself on a train in a station,
With plasticine porters with looking glass ties,
Suddenly someone is there at the turnstyle,
The girl with the kaleidoscope eyes.

Ini lagu The Beatles kesukaan saya, Lucy in the sky with diamonds. Setiap mendengarkan lagu ini saya merasa berada di dunia yang warna-warni dan absurd. Ini gambar tampang saya waktu masih berumur 6 tahun. Ketika saya masih suka main di pekarangan rumah nenek saya bersama adik saya dan juga anak tetangga. Hari-hari yang menyenangkan. Ketika saya masih bisa mencium wangi kue Ontbijkoek dari dapur nenek saya. Kue kesukaan saya, sekarang sudah tidak ada lagi kue seenak itu. Beliau sudah tidak ada.

Kaleidoskop
Bergerak cepat
Jangan buang waktu untuk berkedip
Nanti kamu menyesal
Melewatkan sebuah imagi yang tercipta sekelebat
Saya tak mau melewatkannya barang sedikitpun
Magenta
Lembayung
Turquoise
Hijau jeruk nipis
Semuanya menjadi satu
Menjadi bentukan indah dalam benda itu
Bahagianya
Bayangkan jika mata kita terbuat dari kaleidoskop
Setiap hari hanya melihat keindahan optis
Saya pernah mengenal gadis itu
Gadis yang bermata kaleidoskop
Senyumnya selalu merekah
Semua indah dalam pandangannya
Dibagi keindahannya itu untuk orang lain
Tapi itu dulu



Thursday, May 14, 2009

Puisi yang Terinspirasi dari Perkataan Orang Tidak Dikenal

Kau bilang dari rumahmu hingga ke padang rumput itu jauh?
Kau bilang dari rumahmu ke rumah ibumu jauh?
Kau bilang dari rumahmu ke pusara ayahmu jauh?
Kau bilang dari rumahmu ke rumahku jauh?
Mari sini kuberitahu apa yang paling jauh
Jarak antara kamu dan hati kecilmu
Oh iya, perlu juga kusadarkan
Langkah kakimu kelewat pendek

Pernahkah kau coba untuk katupkan mata?
Tanpa indra untuk melihat
Tanpa lensa
Tanpa cahaya
Kadang saat siang
Bukan hanya hitam
Tetapi merah, kuning, hijau, biru
Bergantian
Cepat
Seperti kaleidoskop
Coba alihkan kepada hembusan nafasmu sendiri
Perlahan
Kau rasakan ritme yang sama dengan alam
Bersyukurlah
Lalu tak hanya itu
Ada sesuatu yang sangat halus sangat ringkih
Tak terjamah tanganmu yang belepotan keteledoran
Sejauh kau memelihara kealpaanmu
Tak pernah kau coba kau intip, kan?
Ya, itu adalah sesuatu yang kau simpan dibalik semua keangkuhan itu
Ya, itu adalah aku
Takut

Saya tahu, matahari yang saya pandang sama dengan matahari yang ia pandang
Tapi saya tak tahu kapan kami bisa melihat matahari bersama
Saya tahu, jalan yang saya lewati setiap hari sama dengan jalan yang ia lewati
Tapi saya tak tahu kapankami bisa melewati jalan ini bersama
Pandirnya saya
Mengapa tak mencoba menjadi matahari saja?
Mengapa tak mencoba menjadi jalan saja?

Little Red Riding Hood



color pencil on paper A4 size

Ini adalah si kerudung merah yang terkenal itu. Tapi kali ini saya yang jadi kerudung merah. Biar ikutan terkenal. Tapi gak akan dimakan serigala kok. Saya khan cukup pintar untuk membedakan yang mana manusia yang mana serigala.

Thursday, April 9, 2009

Puisi Tentang Orang Itu

Menculik satu bintang
Mendobrak tembok koral
Menulisi nama itu di tepian karang, di bibir lautan, di ujung nun jauh, di tempat terakhir dia berdiri
Menangkap senandungnya di tengah keramaian
Mengingat senyum itu dalam kesembunyiannya
Ya, itu seperti berkah untuk saya

Kunang-kunang
Berpendar
Satu demi satu sinarnya hilang
Padam satu,
Padam dua,
Padam tiga,
Tidak ada yang bisa saya buat untuk mencegah.
Hingga pendaran yang terakhir padam.
Lalu saya baru sadar, hari sudah pagi.
Lucu.

La la la
Bersenandung sambil berjingkat kecil
Kaki telanjang menapak bumi dengan suka cita
Setiap sentuhan tanah menjalar, merambat, ke seluruh pembuluh, membawa sebuah pesan dari tanah yang terpijak
Saat mengerti, tertawa terbahak-bahak
Matanya menyipit
Melihatnya bahagia
Bolehkah saya turut?
Sudah lama saya tidak

Friday, March 20, 2009

Puisi Kejadian

Eh.. saya kaget banget lho, ternyata ada yang ngambil pusi-puisi saya untuk tugasnya. Hmm...
Adik saya sendiri saja tidak pernah berbuat begitu. Bahkan waktu karya tulis saya saya sodorin ke dia aja, dia gak mau. Buat siapaun itu yang udah memakai puisi saya untuk tugasnya: Buatlah puisimu sendiri, dik! Pasti kamu akan lebih bangga ketika mendapatkan nilainya. Berikut ini adalah puisi-piuisi yang saya tulis disela-sla kesibukan berkuliah (yang bisa bikin gila).

Rasanya seperti tiba-tiba hilang
Terhempas
Rasnya seperti rapuh
Terhembus
Rasanya seperti mati rasa
Terkubur
Rasanya seperti saya hanya jasad
Terdiri hanya dari benda
Tanpa suatu apa

Langit temaram kali itu
Tak ada semburat jingga barang satu pun
Hanya ada lembayung
Alam semesta senyap
Ketika itu aku sendiri
Berdiri di tepian waktu yang berhenti barang sejenak
Berpikir sehabis ini hendak kemana kuayunkan langkah
Akankah kuikuti arah terbenamn matahari
Atau diam saja disini menikamati waktu yang berhenti barang sejenak

Senandungkan penggalan lagu
Lalu teriakkan isi kepalamu
Apakah kau berasa lebih baik sekarang?
Tidak
Laguku lagu sendu
Teriakanku hialng ditelan pantulan gaung

Berbicara tanpa jeda
Tanpa koma tanpa titik
Berjalan tanpa henti
Tanpa rehat
Tanpa tanya
Kau bicara apa?
Hendak kemana?
Entahlah
Aku hanya ingin pergi tanpa memori

Mengapa tak kuberhentikan menulis puisi-puisi semacam ini?

Friday, February 27, 2009

Smiling Like a Cheshire Cat


color pencil on paper A4 size

Ini ceritanya adalah diri saya dengan kostum tokoh kucing imaginatif di kisah Alice's Adventures in Wonderland.

Tuesday, February 10, 2009

TIPS MENGINAP DI KAMPUS

Gan dan Echa

OK. Kali ini postingan saya ada gunanya buat teman-teman yang terbiasa menginap di kampus, dengan alasan wisudaan tentunya. Menginap di kampus emang cukup membuat badan kita capek dan pegal. Belum lagi tingkat kehigenisan tubuh juga sudah pasti tidak terjamin. Untuk itu saya punya beberapa tips guna menjaga kestabilan kondisi tubuh di kalau menginap di kampus.

1. Bawalah perlengkapan mandi, karena ini biasanya dibutuhkan, kalau-kalau kamu gak sempet balik ke kosan dan kuliah jam 7 teng. Udah gitu sabun juga penting banget. Kalau-kalau kamu gak nahan pengen buang air besar. Udah gitu kalau kita mau makan nasi bungkus khan harus pake tangan. Khan jorok juga kalo tangan kita yang abis kena-kena aci berkarat gitu dipake buat makan.

2. Toilet yang buka 24 jam di ITB itu ada di UPT Bahasa sama IF. Tapi saya sarankan untuk ke Toilet IF aja, soalnya lebih bersih. Selain itu toilet cewek sama cowoknya buka dua-duanya. jadi tinggal pilih deh.. kalo toilet yang di UPT Bahasa rada jorok, udah gitu yang dibuka cuma toilet cowoknya. Tapi ya, kalo udah kebelet banget, seperti pengalaman saya waktu itu, tidur iselasar gedung TPB dengan udara sangat dingin dan terbangun dengan penuh rasa ingin pipis. Mending ke toilet UPT aja, lebih deket. Tapi kalo mau mandi, mending ke toilet IF, lebih luas sih..

3. Penting banget bawa jaket. Apapun jenisnya, mau hoodie, jaket bikers, jaket parasut, jaket winter dengan bulu. you name it! Kalau kamu gak mau menggigil semalam suntuk tentunya. Tapi kalau gw pribadi berpendapat jangan pake jaket bagus-bagus. Sayang euy kalo kena cat. Oh iya, bisa juga kamu pake jaketnya dengan cara dibalik. Jadi bagian luarnya gak kotor.. Oh iya, kalo mau gawe, pake baju yang nyaman. jangan pake baju bagus ataupun jeans kesayangan kamu. Cat tembok susah ilang..

4. Kalau sampe kamu udah ngantuuuuk banget. Carilah tempat yang aman utuk tidur, mushola misalnya. Karena disana lebih hangat dan bersih. Temen saya, si Fatchi, ketua angkatan TPB FSRD 2008, bisa loh tidur gitu aja di aspal parkiran lapangan parkir TPB. ckckck. Kasian bgt dia. Bisa juga kamu bawa selimut atau nggak Sleeping bag.

5. Makan yang cukup! Ini penting banget. Biar kamu selalu sigap saat bekerja. Kalau ada yang mau keluar buat beli makanan.. sok nitip aja.. Tapi jangan lupa bayar.. Minumlah madu, kalau dikasih.,

6. Kalau mau sholat. Jangan ditunda-tunda ya.. sholat di Mushola Comlabs aja, buka 24 jam kok.

7. Oh iya.. jangan lupa bawa perlengkapan P3K, siapa tahu ada yang terluka akibat menyerut bambu. ini penting bgt loh.. jangan sampe tangan kita infeksi.

Nah teman-teman semoga tips-tips ini berguna buat kamu-kamu sekalian. Ayo semangat!

Friday, February 6, 2009

Cara

Grebeg Maulud


Cara. Ada banyak cara Tuhan memberikan kita bantuan. Tertulis. Sepertinya, semua cara itu sudah tertulis. Sejak kita lahir. Seperti yang saya juga imani, yaitu tentang keberadaan qada dan qadar tentang nasib kita dan juga ketentuan-ketentuan-Nya.

Jadi begini, minggu kemaren saya baru aja nonton Slumdog Millionaire. Good movie. Film itu berkisah tentang seseorang yang dicurigai karena bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan pada kuis 'Who Wants to be a Millionaire?'. Padahal ia bisa menjawab semua pertanyaan itu dikarenakan pengalaman hidup. Itu seperti semua tabungan ilmu pengetahuan yang ia dapatkan disepanjang hidunya. Padahal ia bukan orang yang berpendidikan, namun takdir membawanya untuk mengumpulkan banyak informasi, sehingga berguna pada suatu hari.

Hal seperti ini pernah terjadi kepada diri saya. Saat Ujian Saringan Masuk FSRD ITB tahun lalu. Sama seperti di film itu. Ketika saya berusaha menjawab soal gambar suasana, di dalam otak saya, saya seperti membuka file-file. Seperti flashback. Saat itu soal yang diberikan adalah: Gambarkan suasana disebuah acara spiritual dalam 2 bidang gambar. Gambarkanlah kejadian-kejadian yang paling menarik. Sejenak otak saya berputar menarik kembali ke beberapa minggu sebelumnya. Saat saya sedang duduk-duduk di ruang depan bimbingan belajar, saat itu televisi menayangkan berita mengenai puncak acara Sekaten di Jogja, sebuatnya adalah Grebeg Maulud. Acara itu dilaksanakan guna memperingati hari lahir Rasulullah, namun kental dengan tradisi Jawa. Puncak acara tersebut adalah keriuhan masyarakat yang berebutan gunungan sayur-mayur dan buah yang dipercaya dapat memberikan kemakmuran kepada sang empunya. Saat itu, Mas Bowo, Pegawai Bintang merah bilang ke saya, "Sartom, itu tuh tonton beritanya.. Siapa tau keluar di USM." Lalu saya pun memperhatikan berita itu dengan seksama.

Lain hari, guru menggambar saya di Bintang merah, Mas Mamat memberikan soal gambar suasana. Saat itu saya memintanya untuk membuatkan saya soal supaya saya bisa latihan lebih banyak menjelang USM. Mas Mamat memberikan saya soal mengenai jatuhnya pesawat terbang di bandara Adisucipto Yogyakarta. Menurut saya, soal yang diberikan agak janggal, dikarenakan saat itu, berita yang sedang marak adalah berita tentang jatuhnya pesawat di Batam. Kenapa juga ya Mas Mamat malah ngasih soal pesawat jatoh di Jogja? Dikarenakan soal itu, saya jadi mencari tahu banyak mengenai logo Pemda Yogyakarta, logo Dagadu, pakaian beskap dan banyak hal lain yang khas dari Yogyakarta. Pernah juga Mas Mamat memberikan studi mengenai logo-logo, akhirnya saya pun berlatih menggambar logo televisi swasta, yaitu Globaltv.

Di hari USM itu, semua tabungan informasi itu, menjadi sebuah bantuan paling besar dalam hidup saya. Saya menggambar suasana Grebeg Maulud di Yogyakarta. Ceritanya ada orang orang yang sedang berebutan mengambil gunungan sayur-mayur, saling menaiki pundak temanya. Lalu ada yang paling rakus, sampai memakai tas ransel guna meraup semua sayur-mayur yang dipercaya membawa kemakmuran tersebut. Sayangnya ternyata tasnya bocor. Semua sayuran tadi tumpah ruah, lalu dipunguti massa yang ada disana. Lalu pada bagian paling depan di gambar tersebut ada seorang tokoh yang paling kuat dalam cerita tersebut. Sesorang yang memegang pisau lipat. Orang yang merobek tas orang rakus tadi. Semua logo-logo yang pernah saya pelajari seperti logo Pemda Jogja dan logo kaos Dagadu menjadi identitas kuat lokasi dilaksanakannya acara tersebut. Selain itu logo Globaltv tadi saya tempatkan pada topi seorang reporter berkamera yang meliput acara tersebut.

Jadilah sebuah gambar suasana yang penuh informasi, seperti yang saya secara tidak sadar, telah saya tabung dari jauh-jauh hari. Inilah salah satu dari yang namanya takdir, itu semua sudah tertulis, Tuhan tahu kapan saat kita membutuhkanNya. Tuhan tahu bagaimana cara menolong kita. Semua yang kita jalani sampai hari ini telah tertulis dalam sebuah halaman yang telah Ia tuliskan. Ya kira-kira gitu deh.. :)

Friday, January 23, 2009

Mengkritik Dongeng

Setelah menelaah beberapa dongeng masa kecil, saya mendapati bahwa tidak semua dongeng memiliki nilai moral yang baik. Contohnya saja Jack dan Kacang Ajaib (Jack and the Beanstalk) dan Itik Buruk Rupa (The Ugly Duckling), keduanya merupakan dongeng H. C. Andersen. Kenapa begitu?


Jack dan Kacang Ajaib. Coba kita pikirkan, memang dia patut dimarahi oleh ibunya bukan? Anak bodoh mana yang mau menukarkan sapi dengan kacang? Ibunya sudah memberikannya amanah untuk menjual sapi untuk biaya hidup mereka. Jack malah tidak menurut kepada ibunya. Sapi satu-satunya yang mereka punya malah ditukarkan dengan kacang? Bodoh. Lalu Jack juga mencuri. Walaupun ia mencuri dari raksasa, tetap saja. Raksasa berhak marah. Kita tidak patut mencuri dari siapapun bukan? Dan lebih tidak bermoral lagi, Jack bahkan membunuh Raksasa malang itu diakhir cerita. Padahal tadinya, si Raksasa hidup dengan nyaman di istananya di atas awan sana. Tapi Jack lah yang merusak semuanya. Kita tidak sepantasnya mengusik kehidupan orang lain. Ya gak?


Itik Buruk Rupa. Cerita ini mengajarkan kita untuk menjadi pemimpi, bermimpi bahwa suatu hari nanti akan ada perubahan. Kalau sesuatu yang buruk bisa menjadi indah. Padahal daripada menjadi pemimpi, bukankah lebih baik kalau kita berusaha menerima diri kita apa adanya? Buat apa berubah menjadi cantik? Toh bukan berarti kita menjadi manusia (atau angsa dalam cerita ini) yang lebih baik bukan? Harusnya, kita berusaha untuk respect terhadap diri sendiri, daripada mengharapkan keajaiban.

Sunday, January 18, 2009

Gadis dan Benih Bunga

OK, akhirnya saya ngaku. Saya suka sekali membaca buku dongeng. Dari kecil. Kakek saya, selalu membelikan saya buku cerita baru setiap Kami bertandang ke toko buku. Dulu Kami suka ke Toko Buku Gunung Agung yang di Kwitang.. Itu loh, yang depan patung pak tani. Pernah waktu itu, kelas 3 SD, saya dapet ranking 1 di kelas, sampai-sampai Eyang Kung menghadiahi saya 5 buku cerita. :)

Setelah saya pikir-pikir, sepertinya memang saya suka membaca dongeng dan dongeng sedikit banyak memperngaruhi pola pikir saya. Bahkan, kalau disuruh menggambar saja, sekarang, mungkin yang saya gambar adalah si Alice, dari cerita Alice in Wonderland. Jadi, saya pikir-pikir bagaimana kalau mencoba bikin dongeng sendiri. Lagi pula saya memang terbiasa mengarang dongeng-dongeng baru untuk sepupu-sepupu kecil saya yang suka sekali menodong saya untuk bercerita. Mereka suka mengambil beberapa buku, random, waktu itu malah mereka meminta saya membaca cerita dari buku menjahit. Tentunya saya harus mengarang cerita dari gambar yang ada. Cukup tetntang latar belakangnya. OK, Jadi.... Begini ceritanya..


Gadis dan Benih Bunga

Di suatu negeri, hiduplah seorang gadis dengan ibunya. Ibunya adalah seorang penyayang tanaman. Di setiap harinya, si Ibu merawat tamannya dengan suka cita. Namun, seiring dengan waktu, si Ibu semakin tua dan akhirnya jatuh sakit. Si Gadis tak mampu merawat taman sekaligus merawat ibunya yang sakit. Akhirnya pekarangan dengan aneka bunga itu terbengkalai. Sampai-sampai, bunga-bunga indahnya mati lalu berganti menjadi tanaman beracun yang menjalar dimana-mana. Ibu si gadis yang tidak bisa bangun dari tempat tidurnya, setiap hari menanyakan keadaan tamannya, "Putriku, bagaimana kabar tamanku..? Apakah Hydrangeanya sudah mekar..? Apa warnanya..". Sang gadis pun menjadi sedih, dia hanya bisa berbohong, "Taman Ibu baik-baik saja, Bu. Hydrangea telah mekar, bunganya berwarna merah jambon, seperti pipimu.." Si gadis berkata sambil menangis, jelas sekali dia berbohong.. kini pipi ibunya sudah membiru. Takdir tak bisa terelakkan, di suatu hari yang kelabu, Ibunya meninggal. Saat di akhir ajalnya, Ibunya mewariskan 3 buah kantong kecil berisikan benih-benih. Kantong pertama terbuat dari satin berwarna lembayung, kantung kedua terbuat dari goni berwarna kekuningan dan kantung ketiga terbuat dari katun berwarna putih.

Ditengah kesedihannya. Si Gadis mengayunkan sekopnya, membabat habis semua tanaman menjalar yang penuh duri itu. Tangannya berdarah-darah. Ia hanya bisa mengerang kesakitan dan menangis. Ia mau mengubur ibunya di pekarangan itu. Ia ingin, ibunya bisa bersemayam di tempat yang paling dicintainya. Dengan isak tangis, ia menggotong sendiri jenazah ibunya. Lalu menguburnya.

Malamnya, ia bermimpi, sosok ibunya menghampirinya seraya berkata, "Putriku, tanamlah benih di dalam kantung satin tepat diatas pusaraku". Ketika terbangun, Gadis tadi melakukan hal yang diminta ibunya dalam mimpinya. Setiap hari, Ia menyirami benih itu. sambil bernyanyi:

Jika ini adalah bunga..
Maka ini adalah bunga tercantik yang pernah ada..
Secantik kebaikan hati ibuku..

Akhirnya, bunga pun tumbuh. Ternyata Violet! Violet dengan warna lembayung tumbuh disana dan wanginya semerbak di taman. Gadis itu pun senang. Setiap hari, ia menyiraminya dengan penuh kasih sayang, seperti yang dulu ibunya lakukan. Keesokan harinya, Negeri tersebut gempar, Pangeran semata wayang di negeri itu mengadakan pesta utuk mencari istri. Setiap gadis di negeri itu diundang, tak terkecuali. Setiap gadis di negeri itu besolek, menggunakan semua perhiasan yang mereka punya, mengggunakan gaun terindah yang mereka punya. Gadis itu tak memiliki gaun indah satupun, apalagi perhiasan? Ia hanya memiliki sepotong baju biasa, baju yang biasanya dia pakai untuk berkebun. "Aku bahkan tak punya apapun untuk menghias diriku ini.. Betapa menyedihkannya aku..", pikirnya. Namun seketika ia teringat kepada bunga violet itu. Lalu dipetiknya sekuntum, disematkan di telinganya.

Di pesta, ia hanya bisa berdiam dipinggir, gadis-gadis lain menertawakan penampilanya yang tidak menarik. Tapi, seketika harum violet menyebar ke seluruh ruangan. Setiap orang yang menciumnya menjadi bahagia. Sang pengeran pun begitu, hingga ia berkata, "Siapakah gadis yang kebaikan hatinya bahkan bisa tercium seharum ini?". Lalu sang pangeran melihat gadis itu dengan bunga violet di rambutnya. Gadis itu malu dan segera pergi, ia malu kalau harus tampil dengan baju berkebunnya itu.

Keesokan harinya, sang pangeran menitahkan pengawal-pengawal dan hulu balangnya untuk mencari rumah yang memiliki violet di tamannya. Cerita ini tak seindah yang kita bayangkan. Gadis-gadis tetangga tidak suka kalau gadis itu bersanding dengan pangeran. Tanpa sepengetahuan si gadis, mereka membabat habis violet miliknya. Sang gadis yang menemukan semua violetnya telah mati hanya bisa menangis. Ia menangisi kepergian violet-violet yang menjadi satu-satunya sahabatnya.

Malamnya, ia kembali bermimpi sosok ibunya menghampirinya seraya berkata, "Putriku, tanamlah benih di dalam kantung goni diatas pusaraku". Ketika terbangun, Gadis tadi melakukan hal yang diminta ibunya dalam mimpinya. Setiap hari, Ia menyirami benih itu. sambil bernyanyi:

Jika ini bunga..
Maka ini adalah bunga yang paling berguna untuk orang banyak..
Seperti halnya ibuku yang baik hati..

Bunga itu pun tumbuh. Ternyata bunga matahari! Kelopaknya berwarna kuning, seperti kantungnya. Bunga-bunga itu tumbuh tinggi menjulang. Hingga melebihi tinggi si gadis itu. Ia menyayangi bunga matahari itu, setiap hari ia menyiraminya dengan suka cita. Setiap ia melihat bunga itu, ia merasa bunga itu menghiburnya. Hingga suatu hari, negeri itu digemparkan dengan invasi hama binatang pengerat. Semua ladang diserangnya. Penduduk mulai ketakutan. Untungnya gadis ini cerdik, dikumpulkannya semua kwaci bunga mataharinya, hingga berkantung-kantung. Lalu diletakkanya semua kwaci itu di dekat ladang. Seluruh warga hanya bisa tertawa melihat perilakunya. Namun, tak disangka, semua binatang pengerat itu keluar dari ladang-ladang mereka berlaruan menyerbu kwaci dan memilih untuk memakan kwaci-kwaci itu. Warga pun langsung meringkus binatang-binatang itu. Sang pangeran ternyata ada ditengah-tengah keramaian itu, ia melihat kembali sosok gadis itu. Ia lalu berkata, "Siapakah gadis yang begitu cerdik hingga kecerdikannya bisa menyelamatkan kita semua?" Gadis itu pun kembali berlari karena begitu malunya ia di depan pujaan hatinya tersebut.

Keesokan harinya, sang pangeran menitahkan pengawal-pengawal dan hulu balangnya untuk mencari rumah yang memiliki bunga matahari di tamannya. Sekali lagi gadis-gadis tetangga tidak suka kalau gadis itu bersanding dengan pangeran. Tanpa sepengetahuan si gadis, mereka membabat habis bunga matahari miliknya. Sang gadis yang menemukan semua bunga mataharinya telah mati hanya bisa menangis. Ia menangisi kepergian keceriaan si bunga matahari.

Malamnya, ia kembali bermimpi sosok ibunya menghampirinya seraya berkata, "Putriku, tanamlah benih di dalam kantung katun diatas pusaraku". Ketika terbangun, Gadis tadi melakukan hal yang diminta ibunya dalam mimpinya. Setiap hari, Ia menyirami benih itu. sambil bernyanyi:

Jika ini bunga..
Maka ini adalah bunga yang penuh cinta kasih..
Dan juga menyampaikan cintaku untuk pujaanku..

Seperti halnya ibuku yang memiliki cinta kasih untuk sesama..


Bunga itu pun tumbuh. Ternyata dandelion! Kelopaknya berwarna putih, seperti kantungnya. Sayangnya dandelion memanglah bunga yang tak berumur panjang. Bunga-bunganya cepat layu dan berubah menjadi benih-benih terbang. Ternyata angin membawa benih-benih itu terbang melintasi negeri hingga sampai ke istana sang pangeran. Benih-benih itu bernyanyi:

"Ada seorang gadis yang hatinya cantik, otaknya cerdik dan penuh kasih sayang.. menunggumu.. Ikutilah kemana aku terbang dan kau akan menemukannya.."

Sang pangeran yang juga mencintai gadis itu pun segera mengambil kudanya, mengejar kemana benih itu terbang. Hingga benih itu kembali ke rumah si gadis. Sang Pangeran menemukan gadis tadi masih bernyanyi dengan suranya yang merdu sambil menyirami dandelionnya. Lalu ia langsung mengampiri gadis itu dan melamarnya. Gadis itupun menerimanya. Ada satu syaratnya untuk sang pangeran. Ia meminta sepetak kecil di pekarangan istana untuk ia bercocok tanam.

Moral cerita: Jadilah tetap sabar dan kuat walaupun kau sedang dirundung duka. Lakukan segala sesuatu dengan tulus agar bisa berguna untuk orang lain.