Showing posts with label hidup. Show all posts
Showing posts with label hidup. Show all posts

Sunday, January 1, 2012

Old You

Wah Ternyata kita sudah lari cukup jauh saudara-saudari!

Musuh yang lama udah keliatan cere sekali!
Kalau kita bertemu lagi, saya mau Anda jadi upik abu.
Kalau kata seorang senior, mungkin jodohnya cuma sampai disitu...

Gila, saya gak ngerti kenapa hidup itu terus dibilang sama dengan roda?
Roda, kadang di atas kadang di bawah..
Kadang jalan kadang berenti dong?
Kadang salah alamat dong?
Pasti menuju ke mana dong?
Bisa kecelakaan dong?
Pasti mati dong?

Dong
Dong
Dong

Bodo amat dong

Jangan-jangan selama ini kita berlari ke arah yang berlawanan dari tujuan kita..
Atau jangan-jangan malah kita sudah di jalan yang tepat.

Gak ada yang tau, weeeeeeeee.....

Happy new year and 'still' the same old you.




Please call me Saras. This is the name that they gave me at birth.

Wednesday, December 28, 2011

Saya Cuma Begitu Menyukai Ini


Saya tidak tau awal mulanya, kenapa saya mulai menyukai kegiatan ini. Dulu awalnya mungkin karena kesepian tidak ada siapa-siapa waktu siang hari di rumah kakek saya. Yang ada hanya kertas-kertas dan juga alat-alat warna. Saya mulai menggambar.

Saya tidak tahu awalnya bagaimana, cuma waktu itu rasanya senang mengisi waktu, punya suatu bidang putih yang bisa dikuasai sesuka hati. Bisa membikin apa saja yang saya mau, lagi pula mereka juga tidak ada yang ambil pusing saya mau ngapain siang-siang. Anak TK ya, palingan diam saja di ruang TV sambil gambar-gambar. Lalu biasanya saya buat gambar-gambar itu banyak, untuk dibagikan kepada teman-teman. Saya juga tidak tahu gambar-gambar itu untuk apa. Saya pikir, itulah satu-satunya kemahiran yang saya punya. Jika mahir itu disini adalah sebuah standar yang diterapkan oleh saya sendiri. Orang lain boleh lebih mahir, tapi standar mahir saya adalah ketika itu cukup membahagiakan diri saya sendiri. Lagi pula siapa juga sih yang peduli dengan kebahagiaan saya, selain diri ini sendiri?

Saya tidak pernah menyukai apapun lebih dari itu. Saya sangat menikmati saat-saat sendiri dan tak ada orang lain, sehingga saya bisa berteman dengan kertas itu. Mulai membuat gambaran tentang apa yang saya pikirkan. Begitu mudahnya dunia saat itu, semua masalah saya bisa dibagi dengan selembar kertas.

Saya menggambar di masa sekolah yang berat. Mereka begitu bising mengolok-olok apapun sebisa mereka, yang bisa bikin kuping bahkan ingin dipotong saja. Tapi ya... toh saya bisa pura-pura tidak dengar. Saya menggambar terus. Terus-terus biarlah, lagipula tidak ada juga yang peduli akan kebahagiaan orang lain.

Sampai sekarang pun begitu, membuat sesuatu yang dengan sombongnya disebut 'Seni' amat membahagiakan bagi saya, saya tidak tahu lagi cara lain yang bisa membahagiakan saya. Saya pikir cuma diri kita sendiri yang bisa menyelesaikan masalah yang ada, dan kertas itu adalah teman yang setia.

Tidak cuma kertas, tapi kini bisa apa saja, yang penting disana kita boleh bebas melakukan sesuatu atas nama diri kita dan apa itu namanya? Seni?

Saya pikir tidak ada gunanya lagi meratapi. Lebih baik dilakukan dengan sepenuh hati. Lagi pula itu kan yang kita cari dalam hidup. Bahagia.


Dan jangan biarkan mahluk apapun sekutu setan maupun senaif peri sebersih malaikat menghalangi dirimu untuk tidak menjadi bahagia atas waktu yang diberikan Tuhan pada-Mu. Dan atas kesungguhan yang coba Kau berikan atas apa yang Kau kerjakan.

Sunday, October 23, 2011

Kesetaraan Dalam Berbuat Buruk

Jika mereka bisa berbuat buruk tanpa alasan
Tak perlu disangkut-sangkutkan dengan jenis kelamin.

Jika mereka menganggap kita tidak pantas melakukan hal yang sama
Tak perlu disangkut-sangkutkan dengan moral

Jika mereka merasa kita lebih baik memasak dan menjahit
Mengapa kalian tidak pergi saja mencangkul dan membajak

Tidak ada makan siang hari ini
Dan seterusnya!

Kami mogok masak.
Biar kalian mati kelaparan.

Monday, October 3, 2011

Rubah

Ada sebuah artikel di majalah Bobo yang masih saya ingat hingga sekarang. Tentang kata dasar dan imbuhan. Perubahan itu kata kerja dasarnya adalah 'ubah', bukan 'rubah'. Rubah adalah binatang bukan? Ada sebuah gambar ilustrasi lucu di halaman itu.

Kali pertama pergi ke Galeri adalah ketika kecil ketika saya dan keluarga hendak makan sarapan (not-so-called-sarapan, brunch mungkin) di daerah Menteng. Ada sebuah tempat makan enak di depan rumah sakit bersalin YPK. Di dekat Theresia ada sebuah galeri, namanya Balai Budaya (ini baru tahu namanya sekitar 2 tahun lalu ketika baca majalah Art). Ada pameran lukisan. Takzim saya melihatnya, ternyata menggambar (waktu kecil saya tidak tahu kata 'melukis') bisa jadi bagus.

Galeri adalah tempat yang menyenangkan. Terbuka bagi siapa saja yang mau masuk, bahkan keluarga seperti kami yang cuma tidak sengaja lewat.

After all, I still got the same feeling.

Waktu pertama kali menginjak galeri lagi ketika pertama kali masuk kuliah. Galeri Soemardja. Waktu itu lantainya belum seperti sekarang. Masih tegel, bukan parket. Namun ada tata cahaya menyorot ke arah karya-karya itu. Rasanya seperti pengalaman magis. Lebih-lebih sekarang lantainya sudah jadi parket. Dinding putihnya nampak bagus dengan itu.

Kala pergi ke Galeri Nasional, langit-langitnya amat tinggi. Karya-karyanya nampak lebih hebat jadinya. Rasanya seperti pengalaman yang patut diingat. Pembukaan pameran yang sangat ramai. Orang-orang nampak saling mengenal satu sama lain. Membicarakan apa saja. Bahkan mungkin berbicara buruk.

Esokan harinya bisa dipastikan galeri lengang, mana ada keluarga yang bertandang kesana. Galeri itu tempat elit, comrades!

Kembali ke kamar kosan.

Semuanya nampak berbeda 3 tahun (masuk tahun ke-4) yang lalu. Banyak barang-barang berserakan. Bacaan-bacaan yang mungkin dulu saya tak pernah pikirkan untuk dibaca. Kertas-kertas yang dulu saya anggap terlalu fancy untuk dimiliki. Bahan-bahan yang mungkin terlalu aneh untuk anda temukan di kamar seorang gadis. Polyurethan?

I'm eager to know everything.

I don't even know myself anymore.

Sunday, August 21, 2011

Pemakaman

Suatu hal penting ketika datang ke sebuah pemakaman. Tinggalkanlah prasangka Anda. Mungkin seseorang yang telah pergi itu adalah orang yang berbeda dari yang Anda kenal. Beliau yang Anda kenal mungkin kawan karib yang sangat baik, tapi mungkin saja salah satu dari yang hadir adalalah orang yang sakit hati atas perilaku buruknya dan menertawakan dalam diam atas kematiannya.

Mungkin beliau yang Anda kenal adalah orang yang ada di dalam surat kabar atas tindak-tanduk tidak terpujinya, namun ia adalah kakak terkasih bagi adik-adiknya. Beliau yang di surat kabar dicaci-maki dihina atas kesalahan bagi seluruh kelompok masyarakat adalah orang yang sangat murah hati bagi orang lain, orang yang ramah dan terbuka bagi orang sekelilingnya.

Jika bahkan anda tidak mengenal almarhum yang sedang dikebumikan, mungkin ini adalah good deed yang Anda lakukan hari ini untuk memaknai hidup Anda sendiri. Wondering, that day, there'll be a stranger who will attend your funeral and pray for your eternal silence.

Saturday, May 21, 2011

So Long, Farewell





Kami sudah banyak berbagi cerita. Di bawah atapnya, saya menggoreskan kuas untuk pertama kali. Di bawah atapnya saya menunggu eyang kung pulang kerja serta membawa dunkin donuts selusin masing-masing boleh ambil dua buah. Di bawah atapnya eyang mia menceritakan dongeng-dongeng sebelum tidur.

Pada teralisnya ada jejak tangan saya, bahkan garukan di punggung ketika gatal sepulang sekolah taman kanak-kanak. Pada meja makan itu dahulu terhidang makanan apapun favorit dari masing-masing. Pada setiap dindingnya ada foto-foto kami. Di tangganya pernah saya melompat dari anak tangga ke empat dan merasa itu adalah pencapaian hidup terbaik. Pada kolam ikannya si adik pernah pipis sembarangan sebangun tidurnya.

Di dapurnya dulu seratus rantang bisa terisi. Berloyang-loyang bolu bisa dibikin. Dua kali dalam setahun hiruk-pikuk opor dan ketupat yang harus dibikin sendiri. Kecoa kecil suka bersembunyi di balik botol-botol bumbu. Di tempat cuci pakaian saya memandikan sepupu kecil ketika tubuhnya bahkan masih bisa masuk di dalam ember. Di tempat jemuran atas, saya sering melamun sambil kaki kepanasan.

Di tamannya ada kembang sepatu yang sudah hidup dari saya kecil dan mencabutinya setiap ada yang berbunga. Ada pohon petai cina yang suka dimasak, juga belimbing wuluh ya? Ada kuburan kucing kami yang tidak sengaja terlindas di garasi.

Di ruang tamu itu biasanya kami semua duduk berbicara. Di ruang tamu itu jasad eyang mia terakhir kali bersinggah diiringi isak tangis silih berganti.

Dan ia tidak ada di rumah. Dan rumah itu kini pun hilang bersama dengan ia. Kosong dipindahkan. Disinggahi orang lain.

Semoga semua yang dikorbankan sepadan.



There's a sad sort of clanging
From the clock in the hall
And the bells in the steeple too,
And up in the nurs'ry an absurd little bird
Is popping out to say "coocoo".

Regretfully they tell us,
But firmly they compel us
To say goodbye to you.

So long, farewell, Auf wiedersehen, good night,
I hate to go and leave this pretty sight.
So long, farewell, Auf wiedersehen, adieu,
Adieu, adieu, to yieu and yieu and yieu.

So long, farewell, Au'voir, auf wiedersehen,
I'd like to stay and taste my first champagne
So long, farewell, Auf wiedersehen, goodbye,
I leave and heave a sigh and say goodbye,
Good bye

I'm glad to go,
I cannot tell a lie.
I flit, I float,
I fleetly flee, I fly.

The sun has gone to bed and so must I
So long, farewell, auf wiedersehen, goodbye,
Goodbye,
Goodbye,
Goodbye!

--So Long Farewell, The Sound of Music




Wednesday, March 16, 2011

Dewasa

"But time makes bolder, children get older
I'm getting older too, well, I'm getting older too..."

Landslide by Dixie Chicks

Ya, sekarang kita sudah tidak berdiri untuk siapapun selain diri kita sendiri. Pakaian seragam itu telah berkali-kali berganti warna, hingga kini tak perlu dikenakan lagi. Kini kita telah berada di persimpangan jalan dan tak ada yang bisa membantu kita untuk memilih. Siapapun. Apapun.

Masa yang lalu telah saya lewati, banyak tangisan, banyak keringat. Namun sekarang itu rasanya bukan suatu masalah besar. Sepele sekali ya, Tuhan? Malu rasanya kala masa itu hanya memohon untuk bisa lolos dari perkara kecil pergaulan masa sekolah.

Dan kini kamu harus membangun sesuatu hal yang baru. Dengan tanggung jawab yang besar, atas namamu sendiri. Yang memalukan kau telan sendiri yang menyenangkan pula. Waktu ternyata telah berlalu begitu cepat seiring dengan tawa yang semakin sirna. Hidup bukan perkara hari ini, tapi juga besok, minggu depan, minggu nanti, bulan depan, bulan-bulanan, tahun- menahun dan mati. Entah dengan nama baik ataupun tidak.

Menjadi dewasa dengan banyak tanggung jawab, ya, semacam momok. Bisakah saya nanti menjadi seperti layaknya orang dewasa menangani hidupnya. Hidup. Kehidupan. Hidupnya?
Ketakutan itu harus dilewati seiring dengan ludah yang ditelan. Semakin banyak beban yang diemban, tetapi kakimu harus tetap melangkah. Banyak jiwa yang harus ditanggung, akankah dengan jalan yang ini? Saya membawa segenap bawaan saya ke arah ini? Kepercayaan itu selalu diberikan. Namun tidak ada kemungkinan berpaling, kan? Alamatnya ya disitu itu ya? Maka mesti lewat jalan yang ini? Atau tidak? Tidak tahu!

Banyak yang terjadi, banyak yang tidak terjadi, banyak yang dilakukan, banyak yang tidak dilakukan. Tapi yang terpenting adalah memaknai. Katakanlah kita manusia berkegiatan seumur hidup, lupa mati. Lupa kalau hidup itu perlu dimaknai. Hidup itu bukan untuk sendiri, mau bagaimanapun. Atas apa yang telah kami lakukan dan demi waktu yang telah terbuang. Disanalah saya akan memohon waktu untuk tidak kembali.

Tuesday, March 15, 2011

O Life

Yang mati tak lagi dirundung duka
Yang hidup tak tau mau apa

Tuhan tertawa diatas
Yang Maha Bijaksana

Monday, February 14, 2011

Kekuatan Super

Kala itu teman saya bertanya: Kalo mau punya kekuatan super, maunya kekuatan macem apaan?
Waktu itu saya jawab: Gak tau deh, kayaknya gw gak pengen punya kekuatan apa-apaan. Jadi manusia kayak gini juga udah cukup

Bertahun-tahun saya tidak mempunyai keinginan untuk memiliki sesuatu dengan benar-benar serius berkenaan dengan kebendaan, ipod, laptop, hp paling canggih saya tidak punya.

Tidak pernah minta hadiah ulang tahun.

Cuma sekarang saya ingin satu hal. Yang mungkin sulit dikabulkan oleh Tuhan sekalipun.

Saya ingin tidak ada penyakit yang mengganggu adik saya. Saya rasa itu sudah dikategorikan kekuatan super.

Bertahun-tahun saya mencoba melindunginya dari apapun yang ditakutinya. Entah pergaulan yang mengesalkan. Entah ketakutan-ketakutan lain di masa remajanya.
Tapi yang satu ini saya tidak bisa.

Mau bilang apa, yang merasakan bukan saya. Mau bilang sabar sampai suara hilang juga bukan berarti pelipur lara.

Tuesday, February 8, 2011

Lemon Tea Panas

Saya suka rasa lemon tea panas yang diminum di siang hari panas alakadarnya karena dispenser di rumah ini tidak menyediakan air dingin. Setidaknya ada rasa mint yang membantu. Kesannya jadi dingin.

Kesenangan semu itu bisa kita ciptakan sendiri bukan? Lagi pula ada banyak jalan menuju Roma. Sebenarnya bisa saja dengan sok cerdasnya saya mengemas air dalam plastik lalu membuat es batu. Tetapi rasanya begini lebih membantu. Lagi pula tak ada bahaya flu.

Itu namanya kompromi.
He he he

Sunday, October 31, 2010

Perasaan Tidak Enak


Salvador Dali
The Persistence of Memory
oil on canvas
1931
24 cm x 33 cm


Hari itu tiba-tiba perasaan saya gak enak. Ketika itu saya sedang membuat makalah semiotika, dan memilih lukisan diatas untuk ditinjau. Tiba-tiba saya merasa insecure bukan kepalang, ingin menangis. Lantas saya diam lalu kabur ke kamar teman sekosan saya.

Perasaan tidak enak itu menjalar begitu saja. Mungkin firasat atau apa lah. Namun sepertinya lukisan ini juga menambah ketidaknyamanan tersebut. Kekosongan tempat yang ada. Warna-warna pucat yang mengganggu. Jam-jam yang meleleleh. Bagi saya seperti tamparan untuk waktu yang telah saya lewati begitu saja. Saya merasa kosong. Takut.

Esok harinya ayah saya telefon, katanya ia sedang ada di Bandara Padang, hendak pulang kembali ke Jakarta. Sesaat sebelumnya ada gempa yang mengguncang. Untung ia tak apa- apa.

Tuesday, September 14, 2010

Yang Namanya Berdoa

Ya katanya sih harus setiap saat. Sebelum makan, sebelum masuk kamar mandi, setelah tidur, saat mau berangkat. Setelahnya? Ya harusnya juga berdoa. Tapi kita sering alpha. Saya sendiri mungkin sudah lupa bagaimana bunyi doa setelah makan , sering tertukar dengan doa setelah keluar dari kamar mandi. Artinya kita jarang bersyukur atas apa yang diberi. Setelah mendapatkan yang diinginkan lantas lupa berterimakasih.

Sejak kecil ayah dan ibu kita mengajarkan cara berdoa, memintalah keselamatan kepada-Nya, mintalah jalan kepada-Nya. Minta lah apapun.

Doa- doa itu kita lafalkan dari waktu ke waktu, ketika menginginkan sesuatu, menolak bala, pendek kata menguntungkan kita si pendoa. Namun perlahan pendidikan beragama yang telah saya dapatkan semenjak dulu, nampak hanya sebagai rutinitas. Seperti membuka tutup pulpen supaya dapat menulis, seperti mengambil air untuk menggambar cat air. Lalu apa?

Menulis apa?
Menggambar apa?
Tujuan mu apa?

Katanya untuk mencari Ridho-Nya, ya?


Saya rasa setiap manusia harusnya mencari Tuhannya sendiri. Lantas menjadikannya tujuan.

Tuhan bagi saya, mungkin berbeda dengan Tuhan bagi Anda. Toh Ia punya 99 nama yang berbeda bukan? Untung saja itu tidak menjadikannya terpecah dan berkonsep politheisme.

Lalu apakah Tuhan itu candu? Mungkin itu bagi segelintir yang memilih untuk masih bergantung. Sejak kecil berada di lingkungan pendidikan islami membuat saya hafal benar dengan pengajarannya, suatu lembaga tertentu. Punya teman-teman dari golongan yang sama dengan pengajaran yang sama, lantas menjadi pengamat apa yang terjadi dengan kami dewasa ini. Kadang hanya bisa mengelus dada. Ternyata dengan semua pengetahuan yang dimiliki, tak ada yang tersisa ya sekarang malah lebih tepatnya meninggalkannya. Bukannya mau menghakimi pilihan hidup orang lain, hanya nilai-nilai itu masih sedikit menguasai diri saya menjadikannya sebagai tanggung jawab moral. Sedangkan di hati kecil masih ada pembenaran, Ffff this, ffff that, we're just common people!

Lantas apakah yang orang tua dan guru-guru kita ajarkan dulu?
Entahlah, sudah lama saya memilih untuk tidak mencari tahu. Banyak yang bilang untuk mencari tuhan dengan ilmu, menyudutkan agama sebagai kebodohan dan kepercayaan membabi buta atas sesuatu yang non-fisik. Namun dengan segala kebodohan yang saya miliki, saya yakin ia ada di 'Arsy-Nya.


Selamat Lebaran 1431 H.

Lebaran

Friday, August 20, 2010

Life so far....

Arimbi
Watercolor on paper

Mahdi
watercolor on paper


Terimakasih telah membuat saya tetap waras 8 tahun belakangan ini.

Sunday, May 9, 2010

Belum

Hey, jangan cepat puas. Kau belum menyelesaikan apapun.

Hujan di Bandung

Dyonk dan Sartom

Maret. Malam itu hujan amat deras. Saya dan Dyonk pulang terburu-buru dari kampus hendak menyelesaikan beberapa tugas hingga harus menerjang hujan untuk pulang. Lalu makan di pinggir jalan dago dan sepatu basah sampai ke dalam.

Lalu kami naik angkot ke arah atas.
Hari yang melelahkan.
Kacanya berembun.. Bagaimana dengan berbagi dengan teman?
Kita tidak harus selalu menggambar dengan sempurna bukan?

Suatu Hari

Seekor burung hantu mati di lapangan miring di depan SR, Agustus tahun lalu


Setiap hari, kita, manusia, punya pengalaman yang berbeda. Bahkan walau kita berada di tempat yang sama diwaktu yang sama.

Kadang kebosanan memang datang terus-menerus seperti halnya suara tonggeret di tengah musim kemarau ini.

Seekor burung hantu mati kaku di tempat kami menggambar hari itu.

Saya cuma berkata dalam hati, "Mungkin hidupnya cuma sampai hari ini"

Rasanya malu untuk mengakui hari begitu membosankan.

Kalau kematian seekor burung hantu pun bukan suatu yang menarik? Lantas apa?

Thursday, April 15, 2010

Bapaaaak.....!

Saya, Kayla, Chacha dan Tante Eksi di kebun binatang Bandung

Pagi itu saya kuliah mata kuliah Sejarah seni rupa barat yang entah kenapa ruangan kuliahnya panasnya bukan main, akibat kemarau mungkin ya.. Dan saat kelas berakhir pintu ruangannya telah dibuka, ada 2 orang anak kecil, yang satu terlihat lebih besar dari yang lainnya, berteriak riang memanggil, "Bapaaaak....!" Ternyata itu anak-anak bapak dosennya. Bapak ini masih muda, masih 30-an kayaknya sih. Istrinya menunggu dengan sabar di luar, sepertinya mereka hendak pergi bersama-sama ke suatu tempat.

:)

Saya pengen punya keluarga saya sendiri, anak-anak kecil yang lucu-lucu, perempuan laki-laki gak masalah. Pengen punya keluarga sendiri, ada orang yang bisa diajak susah senang bersama. Saya super kepengen punya keluarga seperti contoh keluarga diatas. Saya gak nuntut macam-macam, saya cuma pengen ada keluarga milik saya sendiri (dan pasangan nantinya) yang bisa diajak ke kebun binatang bandung deket kampus. Gak boong, waktu mama papa saya ke Bandung mereka emoh diajak masuk kesana.

Kalau dipikir-pikir, umur saya sudah 20, mahasiswa tingkat 2, seni rupa. There there, udah 2 tahun di ITB, kira-kira paling lama 3 tahun lagi deh bakalan lulus. Habis itu? Baiknya kuliah S2 kata Papa. Saya pikir saya sudah cukup tua. Bayangkan saat-saat SD itu, kami berceloteh tentang masa depan. Dan sekarang masa depan itu tepat di depan hidung saya. Mau gak mau harus mikirin j-o-d-o-h, yah. gimana mau punya keluarga kalo belom nikah ateuh.....

Saya gak mau hidup saya cuma buat diri saya sendiri, saya pengen punya anak-anak dan bapaknya yang bisa jadi geng komplotan baru dalam berbuat keseruan. Tidak dengan teman-teman sebaya saya lagi, tidak dengan luntang-lantung lagi. hehe.

Thursday, March 25, 2010

Mengingat


Saya ingin membagi ingatan saya tentang masa kecil saya melalui foto-foto lama ini. Bagaimana foto adalah hal yang lumrah bagi setiap keluarga, untuk mengabadikan kisah-kisah kecil. Memori masa kecil yang bahagia, kebersamaan keluarga, saat merengut dan saat tertawa.


Ini ulang tahun saya yang ke-10 dirayakan dengan sederhana di rumah eyang. Itu baju favorit saya :) Hadiah dari eyang saya.

Saya suka penasaran dengan gitar milik Om Bram, namun selalu saja kacau jika saya mencoba memainkannya. Hari itu, Om Bram memfoto saya dengan gitar itu, gitar yang bahkan lebih besar dari badan saya kala itu.

Saat itu kami sedang bermain kolam bola di dufan. Itu gadis kecil yang di sebelah saya adalah Lia. Saya sebenarnya amat takut di kolam bola, karena kaki saya tak dapat berpijak dan terasa tak berdasar.
Hari itu saya malas pergi ke sekolah dan merengut karena malas difoto. Baju berwarna oranye itu adalah seragam hari Jumat. Pagi itu papa dan adik saya malah lagi semangat untuk berfoto.

Saat itu murid-murid TK At-Taufiq Cempaka Putih diundang untuk mengisi acara di perayaan Nuzulul Qur'an dan Ulang Tahun Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Hari itu dandanan yang ibu guru saya pulas diwajah saya amat menor, saya jadi agak ngambek, namun adik saya Lia datang untuk memberikan semangat hingga saya pun mau diajak berfoto. Gadis kecil yang disebelahnya bernama Puput, teman saya kala itu.

Foto ini diambil di rumah nenek dari pihak ayah saya, di kota Serang. Saya dan Lia memakai baju bergambar Lion King yang saat itu lagi diputar di bioskop. Saat foto ini diambil, saya menyuruh Lia untuk mengacungkan jempolnya seperti iklan 'RCTI OK' tapi dia gak mau. Sayangnya foto kemburu dijepret ketika saya sedang memaksanya..

Om Bram suka fotografi, sore itu saya dijadikan modelnya, kami berfoto-foto di halaman rumah Eyang

Waktu itu kami sedang karyawisata ke Taman Safari. Pasti tujuan karyawisata semua TK ke sana juga bukan? Ini saat kami dikumpulkan oleh Ibu guru.


Foto ini diambil ketika Lebaran tahun 1994 (saya ingat waktu itu kakek dan nenek saya baru pulang naik Haji dan saya masih baru masuk TK A). Saya berfoto dengan nenek kakek dan adik saya, yang lainnya adalah keponakan dari Eyang Kung dan anak-anaknya.


Saya masih mengingat semua kelebatan itu dengan jelas. Saya kangen bagian hidup yang telah terlewat itu.




Saturday, January 16, 2010

Bersyukur



Hal yang paling saya syukuri hingga saat ini adalah, ketika Tuhan memberikan saya jalan ke tempat ini. Seni Rupa ITB.