Thursday, July 1, 2010

Doodle Liburan 2

watercolor on paper

Ayo lebih banyak menggambar liburan ini!

Monday, June 28, 2010

Doodle Liburan

watercolor on paper

foto diambil dari flickr teman saya, eric :)

Saturday, June 5, 2010

15x15x15 Mini Art Project#3 : recreate x reality x representation


Ratu Rizkitasari Saraswati & Kara Andarini

Mendarat
Mix Media
Variable dimension

2010

Sunday, May 9, 2010

Belum

Hey, jangan cepat puas. Kau belum menyelesaikan apapun.

Hujan di Bandung

Dyonk dan Sartom

Maret. Malam itu hujan amat deras. Saya dan Dyonk pulang terburu-buru dari kampus hendak menyelesaikan beberapa tugas hingga harus menerjang hujan untuk pulang. Lalu makan di pinggir jalan dago dan sepatu basah sampai ke dalam.

Lalu kami naik angkot ke arah atas.
Hari yang melelahkan.
Kacanya berembun.. Bagaimana dengan berbagi dengan teman?
Kita tidak harus selalu menggambar dengan sempurna bukan?

Suatu Hari

Seekor burung hantu mati di lapangan miring di depan SR, Agustus tahun lalu


Setiap hari, kita, manusia, punya pengalaman yang berbeda. Bahkan walau kita berada di tempat yang sama diwaktu yang sama.

Kadang kebosanan memang datang terus-menerus seperti halnya suara tonggeret di tengah musim kemarau ini.

Seekor burung hantu mati kaku di tempat kami menggambar hari itu.

Saya cuma berkata dalam hati, "Mungkin hidupnya cuma sampai hari ini"

Rasanya malu untuk mengakui hari begitu membosankan.

Kalau kematian seekor burung hantu pun bukan suatu yang menarik? Lantas apa?

Thursday, April 15, 2010

Bapaaaak.....!

Saya, Kayla, Chacha dan Tante Eksi di kebun binatang Bandung

Pagi itu saya kuliah mata kuliah Sejarah seni rupa barat yang entah kenapa ruangan kuliahnya panasnya bukan main, akibat kemarau mungkin ya.. Dan saat kelas berakhir pintu ruangannya telah dibuka, ada 2 orang anak kecil, yang satu terlihat lebih besar dari yang lainnya, berteriak riang memanggil, "Bapaaaak....!" Ternyata itu anak-anak bapak dosennya. Bapak ini masih muda, masih 30-an kayaknya sih. Istrinya menunggu dengan sabar di luar, sepertinya mereka hendak pergi bersama-sama ke suatu tempat.

:)

Saya pengen punya keluarga saya sendiri, anak-anak kecil yang lucu-lucu, perempuan laki-laki gak masalah. Pengen punya keluarga sendiri, ada orang yang bisa diajak susah senang bersama. Saya super kepengen punya keluarga seperti contoh keluarga diatas. Saya gak nuntut macam-macam, saya cuma pengen ada keluarga milik saya sendiri (dan pasangan nantinya) yang bisa diajak ke kebun binatang bandung deket kampus. Gak boong, waktu mama papa saya ke Bandung mereka emoh diajak masuk kesana.

Kalau dipikir-pikir, umur saya sudah 20, mahasiswa tingkat 2, seni rupa. There there, udah 2 tahun di ITB, kira-kira paling lama 3 tahun lagi deh bakalan lulus. Habis itu? Baiknya kuliah S2 kata Papa. Saya pikir saya sudah cukup tua. Bayangkan saat-saat SD itu, kami berceloteh tentang masa depan. Dan sekarang masa depan itu tepat di depan hidung saya. Mau gak mau harus mikirin j-o-d-o-h, yah. gimana mau punya keluarga kalo belom nikah ateuh.....

Saya gak mau hidup saya cuma buat diri saya sendiri, saya pengen punya anak-anak dan bapaknya yang bisa jadi geng komplotan baru dalam berbuat keseruan. Tidak dengan teman-teman sebaya saya lagi, tidak dengan luntang-lantung lagi. hehe.

Thursday, March 25, 2010

Mengingat


Saya ingin membagi ingatan saya tentang masa kecil saya melalui foto-foto lama ini. Bagaimana foto adalah hal yang lumrah bagi setiap keluarga, untuk mengabadikan kisah-kisah kecil. Memori masa kecil yang bahagia, kebersamaan keluarga, saat merengut dan saat tertawa.


Ini ulang tahun saya yang ke-10 dirayakan dengan sederhana di rumah eyang. Itu baju favorit saya :) Hadiah dari eyang saya.

Saya suka penasaran dengan gitar milik Om Bram, namun selalu saja kacau jika saya mencoba memainkannya. Hari itu, Om Bram memfoto saya dengan gitar itu, gitar yang bahkan lebih besar dari badan saya kala itu.

Saat itu kami sedang bermain kolam bola di dufan. Itu gadis kecil yang di sebelah saya adalah Lia. Saya sebenarnya amat takut di kolam bola, karena kaki saya tak dapat berpijak dan terasa tak berdasar.
Hari itu saya malas pergi ke sekolah dan merengut karena malas difoto. Baju berwarna oranye itu adalah seragam hari Jumat. Pagi itu papa dan adik saya malah lagi semangat untuk berfoto.

Saat itu murid-murid TK At-Taufiq Cempaka Putih diundang untuk mengisi acara di perayaan Nuzulul Qur'an dan Ulang Tahun Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Hari itu dandanan yang ibu guru saya pulas diwajah saya amat menor, saya jadi agak ngambek, namun adik saya Lia datang untuk memberikan semangat hingga saya pun mau diajak berfoto. Gadis kecil yang disebelahnya bernama Puput, teman saya kala itu.

Foto ini diambil di rumah nenek dari pihak ayah saya, di kota Serang. Saya dan Lia memakai baju bergambar Lion King yang saat itu lagi diputar di bioskop. Saat foto ini diambil, saya menyuruh Lia untuk mengacungkan jempolnya seperti iklan 'RCTI OK' tapi dia gak mau. Sayangnya foto kemburu dijepret ketika saya sedang memaksanya..

Om Bram suka fotografi, sore itu saya dijadikan modelnya, kami berfoto-foto di halaman rumah Eyang

Waktu itu kami sedang karyawisata ke Taman Safari. Pasti tujuan karyawisata semua TK ke sana juga bukan? Ini saat kami dikumpulkan oleh Ibu guru.


Foto ini diambil ketika Lebaran tahun 1994 (saya ingat waktu itu kakek dan nenek saya baru pulang naik Haji dan saya masih baru masuk TK A). Saya berfoto dengan nenek kakek dan adik saya, yang lainnya adalah keponakan dari Eyang Kung dan anak-anaknya.


Saya masih mengingat semua kelebatan itu dengan jelas. Saya kangen bagian hidup yang telah terlewat itu.




Thursday, February 25, 2010

Kelopak dan Perompak

Kelopak tipis, berwarna merah pupus
Terbang menjelajah pelosok dunia
Dibawa angin timur melintas daratan
Dibawa angin barat melintas lautan

Perompak mengarungi samudera
Ke utara mencari suara
Ke selatan mencari hati buatan

Saat kelopak lelah dan angin enggan berhembus
Ia tergeletak di geladak milik perompak
Perompak lalu memungut kelopak merah pupus yang mulai lusuh

Ia terkaget-kaget
Bagaimana mungkin
Kelopak itu mengarungi lautan
Apa yang membawanya kemari?
Singgah di geladaknya
Ia pun menyimpannya di sakunya

Bulan berganti bulan
Setiap purnama, air pasang
Sang perompak kewalahan
Terkadang ia berpikir untuk menyerah kepada...
Apa ya?
Mungkin Neptunus?
Mungkin juga kekuatan lain?
Perompak juga tidak tahu persis

Kelopak tersimpan, terjebak dalam jubah kumuh berbau amis dan juga garam

Lama kelamaan
Perompak mulai lelah menjelajah
Kembalilah ia ke kotanya
Ia mencari lagi perempuan itu
Perempuan yang membuatnya memilih untuk pergi jauh

Namun yang ditemukannya hanyalah pusara dengan kelopak merah pupus berserakan
Sia-sia sudah perjalanannya mengarungi tujuh samudera
Namun tidak dengan kelopak
Ia kini tahu tujuan perjalanannya
Menyampaikan pesan lama yang belum diutarakan

Untung angin utara sempat membawa kapal perompak hingga ke peraduan
Dan kelopak kini kembali dengan saudarinya yang lain