Thursday, December 24, 2009

Good Morning


Good Morning #3 (Caca)

42x29.7 cm

watercolor on paper

2009

Ini 1 dari 5 karya yang saya buat untuk pameran We Hail We Sail from the Morning Glory Parade.

Gadis kecil ini namanya Carissa Namira Alifia, sepupu saya.

Suka kangen deh sama dia, anaknya bawel banget, suka bikin dongeng sendiri.

Ini saya gambar dari foto dia pas baru bangun tidur.

Dia pasti seneng banget saya gambar :)

Monday, December 21, 2009

Menghapus

Saya baru sadar, kalau ada barang di tempat pensil kita yang paling sering hilang dan paling sering kamu beli lagi, pasti penghapus.

Kenapa penghapus? Karena kita sering melakukan kesalahan, dan menghapus adalah shortcut untuk memperbaikinya. Tapi sadar gak kita, setiap menghapus, pasti ada sesuatu yang terkikis dan berkurang. Misalnya kertas yang kamu hapus jadi semakin tipis, atau pengapus kamu juga semakin kecil. Tidak ada yang tidak berkurang, tidak ada yang sama seperti sebelum kesalahan itu terjadi. Sama saja seperti ketika kamu menggali lubang, setiap menggali lubang, pasti ada tanah yang keluar dan harus di tempatkan di tempat lain. Jadi inti nya: Ada yang hilang dan ada yang timbul. Sama seperti negatif dan positif.

Mengapa kita sering menghapus? Karena kita suka kurang pertimbangan..? Mungkin.. Bisa juga karena kita tidak suka menanggulangi yang ada, contohnya: Kita lebih suka mentip-ex dari pada mencoretnya. Tapi apakah tulisan yang salah itu benar-benar hilang? Tidak, yang ada hanyalah warna putih palsu yang berbeda dengan warna kertas. Tapi kita lebih suka berpura-pura menganggap kalau tidak pernah ada tulisan disana dan menimpa putih yang baru tersebut.

Hidup itu tidak sama seperti tindakan-tindakan yang kita lakukan di komputer. Undo. Delete. Tidak seperti itu, lebih seperti. Face it kalau kita melakukan kesalahan, dan emang gak ada yang bisa kembali sediakala tanpa cacat. Menghilangkan memori buruk. Membuang pikiran buruk tentang sikap atau kejadian. Bukannya tidak butuh penghapus, tapi sebersih apakah penghapus itu berfungsi? Pasti tidak akan seputih kertas itu dulu, pasti ada yang terkikis, sakit. Kita manusia seperti kertas, merasakan setiap tinta atau grafit yang pernah di toreh. Dan untuk menghapusnya, tidak semudah Undo.

Saturday, November 14, 2009

Kayla


Kayla
Watercolor on paper
2009

Saturday, November 7, 2009

Seratus

Ternyata saya sudah menulis cukup banyak.
Awalnya dari Kelas 2 SMA. Sekarang udah kuliah tingkat 2.
Dulu masih belum tau arahnya kemana. Sekarang udah tau, tapi tau hal lain yang lebih berat dari yang dulu.
Dulu masih suka keliaran di tempat-tempat yang deket rumah. Sekarang bahkan makin males jalan-jalan.
Dulu mau masuk FSRD ITB. Sekarang udah keterima.
Dulu maunya jadi desainer produk (apa? Gambar Konstruk? AAAAAA). Sekarang mau jadi seniman.
Dulu cuma tau Jakarta. Sekarang sedikit ditambah pengetahuan tentang Bandung.
Dulu gak kenal. Sekarang jadi kenal.
Dulu cuma gitu aja. Sekarang jadi gini deh.
Dan seterusnya.

Friday, October 30, 2009

Memulai Magenta

Jika boleh memilih
Dimulai darimana
Maka akan magenta diawalnya

Lalu akan mengakhirinya dengan magenta lagi
Seperti do'a
Agar selalu menyenangkan dari awal hingga akhir

Mungkin ia bukan merah yang mentereng
Mungkin ia juga bukan ungu yang redup
Mungkin warna yang menggangu untuk matamu
Saya lebih suka mengeliminasi warna merah
Dan terus memakai magenta

Thursday, October 29, 2009

(Lukisan) #8

Judulnya cuma itu
Lukisannya juga abstrak
Tapi saya menyukainya
Tanpa tahu artinya
Sama sekali
Mungkin karena angkanya 8
Kesan bentuknya tanpa akhir
Berbeda dengan lukisan yang terjejer disamping-sampingnya
#1 #2...#7.....#17
Padahal biasanya lebih memilih angka ganjil
Mungkin karena warna hitam yang diatas
Mungkin karena sapuan warna kuning ditengahnya
Mungkin karena kesatuan semuanya
Mungkin karena saya tidak tahu artinya
Padahal mungkin pelukisnya tidak memberikan arti apapun
Mungkin saya yang terlalu terhipnotis
Mungkin karena ada tanda pagar di depan judulnya
Kesannya ada batasan
Antara yang sempurna dan tidak sempurna
Mungkin karena # dan 8 cocok berdampingan
Keduanya nampak simetris
Mungkin karena saya penasaran
Lalu memilih lama berdiri disitu
Berpikir untuk memecahkan teka-teki
Hingga akhirnya tahu bahwa tidak ada yang harus ditebak

Gambar-Gambar 2







Jangan tanya kenapa gambarnya kacamata semua

Sunday, October 25, 2009

Dobrunka dan Empat Musim

Waktu saya kecil, saya pernah dibelikan kumpulan buku dongeng yang ilustrasinya bagus banget. Nama ilustratornya Adrienne Segur. Ada 2 buku yang saya punya dengan illustrator dan penerbit asli yang sama. Yang pertama judulnya The Golden Book of Fairy Tales (versi Gramedia: Kumpulan cerita dongeng) Isi bukunya dongeng-dongeng Grimm dan Andersen, dan beberapa dongeng dunia. Saya ingat, hari dibelinya buku itu, di sebuah di Gramedia Book fair, saya masih TK dan sedang mengikuti lomba mewarnai yang diselenggarakan panitia yang bersangkutan. Saat ibu saya datang menjemput (ia membiarkan saya meninggalkan saya saat lomba), setelah lomba itu, ia tiba-tiba membawakan saya buku dongeng baru. Sepulang dari sana, telinga saya sakit, sepertinya kemasukan air, waktu berenang di hari sebelumnya.. Akhirnya saya cuma bisa menangis dan meringis dipangkuan ibu saya sepulangnya hari itu, sepanjang siang hingga sore. Ibu saya lalu membacakan satu demi satu semua dongeng yang ada. Ini covernya.



Saya suka ilustrasi di dongeng Bright, Deardeer, and Kit.


Buku yang kedua Judulnya L'Oiseau D'or et Autres Contes (versi Gramedia: Burung Emas dan cerita-cerita lainnya). Isinya tentang dongeng-dongeng Eropa Timur (contoh :Czech), yang selalu ada tokoh jahat bernama Baba Yaga dan juga dongeng modern. Saya dibelikan kakek saya ketika usia SD. Inget banget waktu itu dibeliinnya di Toko Buku Gunung Agung yang di Kwitang, yang depannya patung pak tani. Ini covernya.



Dalam satu dongengnya, Dobrunka dan Empat Musim (Twelve Months) ada kalimat penutup dongeng yang saya suka, sebuah pepatah:

winter at the door, summer in the barn, autumn in the cellar, and spring in the heart.


Dan sebuah gambar dari dongeng berjudul Tukang Sepatu yang berbahagia atau Le Marriage du Cordonnier (The Marriage of the Shoemaker) benar-benar terpatri diingatan sampai sekarang.


Tap, tap, la ri ra ding dong dengngggg.. Suara kegaduhan yang dibuat tukang sepatu ketika bekerja. Dan Putri Klaudia hanya bisa melihat dari jendela..

Sunday, October 18, 2009

Apsaras

Kemaren sepulang dari acara musik yang dibikin sama anak-anak kampus saya, yang menampilkan Jodi in The Morning Glory Parade dan mereka menyanyikan lagu kesukaan saya In your eyes (I see the moon) :), saya pulang naik angkot sama si Dyonk yang terpaksa keseret ke acara musik itu gara-gara saya. Pas pulang naik Caheum-Ciroyom ada seorang ibu muda dan anaknya. Sepertinya ibu itu baru pulang kerja, soalnya full make-up. Anak perempuannya yang berumur kira-kira 6 tahun terlihat letih. Disandarkan kepala mungilnya ke ke relung ibunya. Lalu si ibunya memeluknya. Heart-warming banget. Mungkin si kecil terlalu lelah hari itu menemani ibunya di tempat kerja. Lalu ketika melewati sebuah restoran di pinggir jalan, si anak memanggil-manggil ayahnya.. Mungkin ayahnya memang bekerja di situ..

Yak, ke topik ini lagi. Saya kepengen punya anak perempuan. Sepanjang jalan saya kepikiran sama itu, berkeluarga. Mungkin memang belum berkecukupan, mungkin memang belum punya ini itu, mungkin belum bisa semuanya terpenuhi, tapi.. setidaknya mereka saling memiliki, kan?

Oh iya.. Saya punya nama tambahan untuk si Jingga, yaitu Apsaras. Artinya bidadari dalam kepercayaan Agama Hindu. Apsaras Jingga. Hehe, bagus ya. Semoga saja anak perempuan itu jadi anak yang manis dan menyenangkan. Semoga saja Tuhan mau kasih Jingga untuk saya. Amin.

Sunday, October 11, 2009

Gambar-Gambar



Hoho daripada disimpen di sketchbook mending ditaro di blog, seenggaknya mama, papa dan adik-adik saya bisa liat (saya tahu mereka suka baca blog saya).