Friday, September 28, 2012

Orang

Mungkin ini nampak sok heroik
Cuma saya tahu jelas bagaimana rasanya tidak dianggap sebagai orang
Maka saya ingin jadi orang
Entah harus bagaimana pun saya akan coba
Mau dikata sinting
Saya cuma ingin entitas seperti saya yang sering dianggap bukan orang ini terwakilkan
Biar nanti saya bisa tahbiskan entitas itu menjadi orang-orang
Suka atau tidak suka

 

Sunday, July 22, 2012

Perkara Baru-Lama

Kadang-kadang saya bingung bagaimana caranya untuk bisa menulis seperti dulu lagi. Jika meninjau tulisan-tulisan saya dulu, mengapa rasanya saya yang sekarang sudah jauh-jauh-jauh berubah. Susah rasanya untuk memudahkan. Gampang rasanya untuk menyulitkan.

Masalah Barang

Sudah barang tentu mereka datang untuk tertawa
Barangkali itu untuk saya
Barangkali juga untuk sesama mereka

Namun dari sekian kali saya sembarang membuat turus
Kebanyakan memang untuk saya urus

Saturday, June 30, 2012

Amuk

Rasanya cuma mau teriak saja
Lalu abrukkan yang berdiri
Hancurkan yang utuh
Sampai semua porak-poranda
Begitu juga dengan saya

Thursday, June 7, 2012

Si Mujur dan Si Sial

Si Mujur
Selalu dapat baiknya, tiap perkara
Lantang ia berkata, "Kemujuran adalah cara untuk bahagia!"

Si Sial
Selalu dapat buruknya, tiap perkara
Lirih ia berbisik, "Kesialan hanyalah untuk orang terpilih.."




Thursday, March 29, 2012

Persimpangan

Saya berada di persimpangan.
Ada beberapa hal yang sepertinya tidak bisa hilang, membusuk di dalam.
Namun kebusukan itu telah lama berdiam, menyatu dengan diri.
Rasanya telah menjadi bagian dari katup-katup hidup.

Memang tak pelak, pilihan itu ada.
Amputasi saja bagian busuknya.
Namun disanalah asal semua asa dan harapan ini.

Saya telah terbiasa memiliki yang tersisa.

Monday, March 26, 2012

Ini Cuma Begitu Sulit

Kadang-kadang saya cuma merasa sangat sulit untuk menjadi saya.

Tuesday, January 17, 2012

Cih, Akhirnya.


Ratu Rizkitasari Saraswati

Ode to My Doll

Linocut printed with watercolor ink

2011

Sunday, January 1, 2012

Old You

Wah Ternyata kita sudah lari cukup jauh saudara-saudari!

Musuh yang lama udah keliatan cere sekali!
Kalau kita bertemu lagi, saya mau Anda jadi upik abu.
Kalau kata seorang senior, mungkin jodohnya cuma sampai disitu...

Gila, saya gak ngerti kenapa hidup itu terus dibilang sama dengan roda?
Roda, kadang di atas kadang di bawah..
Kadang jalan kadang berenti dong?
Kadang salah alamat dong?
Pasti menuju ke mana dong?
Bisa kecelakaan dong?
Pasti mati dong?

Dong
Dong
Dong

Bodo amat dong

Jangan-jangan selama ini kita berlari ke arah yang berlawanan dari tujuan kita..
Atau jangan-jangan malah kita sudah di jalan yang tepat.

Gak ada yang tau, weeeeeeeee.....

Happy new year and 'still' the same old you.




Please call me Saras. This is the name that they gave me at birth.

Wednesday, December 28, 2011

Saya Cuma Begitu Menyukai Ini


Saya tidak tau awal mulanya, kenapa saya mulai menyukai kegiatan ini. Dulu awalnya mungkin karena kesepian tidak ada siapa-siapa waktu siang hari di rumah kakek saya. Yang ada hanya kertas-kertas dan juga alat-alat warna. Saya mulai menggambar.

Saya tidak tahu awalnya bagaimana, cuma waktu itu rasanya senang mengisi waktu, punya suatu bidang putih yang bisa dikuasai sesuka hati. Bisa membikin apa saja yang saya mau, lagi pula mereka juga tidak ada yang ambil pusing saya mau ngapain siang-siang. Anak TK ya, palingan diam saja di ruang TV sambil gambar-gambar. Lalu biasanya saya buat gambar-gambar itu banyak, untuk dibagikan kepada teman-teman. Saya juga tidak tahu gambar-gambar itu untuk apa. Saya pikir, itulah satu-satunya kemahiran yang saya punya. Jika mahir itu disini adalah sebuah standar yang diterapkan oleh saya sendiri. Orang lain boleh lebih mahir, tapi standar mahir saya adalah ketika itu cukup membahagiakan diri saya sendiri. Lagi pula siapa juga sih yang peduli dengan kebahagiaan saya, selain diri ini sendiri?

Saya tidak pernah menyukai apapun lebih dari itu. Saya sangat menikmati saat-saat sendiri dan tak ada orang lain, sehingga saya bisa berteman dengan kertas itu. Mulai membuat gambaran tentang apa yang saya pikirkan. Begitu mudahnya dunia saat itu, semua masalah saya bisa dibagi dengan selembar kertas.

Saya menggambar di masa sekolah yang berat. Mereka begitu bising mengolok-olok apapun sebisa mereka, yang bisa bikin kuping bahkan ingin dipotong saja. Tapi ya... toh saya bisa pura-pura tidak dengar. Saya menggambar terus. Terus-terus biarlah, lagipula tidak ada juga yang peduli akan kebahagiaan orang lain.

Sampai sekarang pun begitu, membuat sesuatu yang dengan sombongnya disebut 'Seni' amat membahagiakan bagi saya, saya tidak tahu lagi cara lain yang bisa membahagiakan saya. Saya pikir cuma diri kita sendiri yang bisa menyelesaikan masalah yang ada, dan kertas itu adalah teman yang setia.

Tidak cuma kertas, tapi kini bisa apa saja, yang penting disana kita boleh bebas melakukan sesuatu atas nama diri kita dan apa itu namanya? Seni?

Saya pikir tidak ada gunanya lagi meratapi. Lebih baik dilakukan dengan sepenuh hati. Lagi pula itu kan yang kita cari dalam hidup. Bahagia.


Dan jangan biarkan mahluk apapun sekutu setan maupun senaif peri sebersih malaikat menghalangi dirimu untuk tidak menjadi bahagia atas waktu yang diberikan Tuhan pada-Mu. Dan atas kesungguhan yang coba Kau berikan atas apa yang Kau kerjakan.