Sunday, January 18, 2009

Gadis dan Benih Bunga

OK, akhirnya saya ngaku. Saya suka sekali membaca buku dongeng. Dari kecil. Kakek saya, selalu membelikan saya buku cerita baru setiap Kami bertandang ke toko buku. Dulu Kami suka ke Toko Buku Gunung Agung yang di Kwitang.. Itu loh, yang depan patung pak tani. Pernah waktu itu, kelas 3 SD, saya dapet ranking 1 di kelas, sampai-sampai Eyang Kung menghadiahi saya 5 buku cerita. :)

Setelah saya pikir-pikir, sepertinya memang saya suka membaca dongeng dan dongeng sedikit banyak memperngaruhi pola pikir saya. Bahkan, kalau disuruh menggambar saja, sekarang, mungkin yang saya gambar adalah si Alice, dari cerita Alice in Wonderland. Jadi, saya pikir-pikir bagaimana kalau mencoba bikin dongeng sendiri. Lagi pula saya memang terbiasa mengarang dongeng-dongeng baru untuk sepupu-sepupu kecil saya yang suka sekali menodong saya untuk bercerita. Mereka suka mengambil beberapa buku, random, waktu itu malah mereka meminta saya membaca cerita dari buku menjahit. Tentunya saya harus mengarang cerita dari gambar yang ada. Cukup tetntang latar belakangnya. OK, Jadi.... Begini ceritanya..


Gadis dan Benih Bunga

Di suatu negeri, hiduplah seorang gadis dengan ibunya. Ibunya adalah seorang penyayang tanaman. Di setiap harinya, si Ibu merawat tamannya dengan suka cita. Namun, seiring dengan waktu, si Ibu semakin tua dan akhirnya jatuh sakit. Si Gadis tak mampu merawat taman sekaligus merawat ibunya yang sakit. Akhirnya pekarangan dengan aneka bunga itu terbengkalai. Sampai-sampai, bunga-bunga indahnya mati lalu berganti menjadi tanaman beracun yang menjalar dimana-mana. Ibu si gadis yang tidak bisa bangun dari tempat tidurnya, setiap hari menanyakan keadaan tamannya, "Putriku, bagaimana kabar tamanku..? Apakah Hydrangeanya sudah mekar..? Apa warnanya..". Sang gadis pun menjadi sedih, dia hanya bisa berbohong, "Taman Ibu baik-baik saja, Bu. Hydrangea telah mekar, bunganya berwarna merah jambon, seperti pipimu.." Si gadis berkata sambil menangis, jelas sekali dia berbohong.. kini pipi ibunya sudah membiru. Takdir tak bisa terelakkan, di suatu hari yang kelabu, Ibunya meninggal. Saat di akhir ajalnya, Ibunya mewariskan 3 buah kantong kecil berisikan benih-benih. Kantong pertama terbuat dari satin berwarna lembayung, kantung kedua terbuat dari goni berwarna kekuningan dan kantung ketiga terbuat dari katun berwarna putih.

Ditengah kesedihannya. Si Gadis mengayunkan sekopnya, membabat habis semua tanaman menjalar yang penuh duri itu. Tangannya berdarah-darah. Ia hanya bisa mengerang kesakitan dan menangis. Ia mau mengubur ibunya di pekarangan itu. Ia ingin, ibunya bisa bersemayam di tempat yang paling dicintainya. Dengan isak tangis, ia menggotong sendiri jenazah ibunya. Lalu menguburnya.

Malamnya, ia bermimpi, sosok ibunya menghampirinya seraya berkata, "Putriku, tanamlah benih di dalam kantung satin tepat diatas pusaraku". Ketika terbangun, Gadis tadi melakukan hal yang diminta ibunya dalam mimpinya. Setiap hari, Ia menyirami benih itu. sambil bernyanyi:

Jika ini adalah bunga..
Maka ini adalah bunga tercantik yang pernah ada..
Secantik kebaikan hati ibuku..

Akhirnya, bunga pun tumbuh. Ternyata Violet! Violet dengan warna lembayung tumbuh disana dan wanginya semerbak di taman. Gadis itu pun senang. Setiap hari, ia menyiraminya dengan penuh kasih sayang, seperti yang dulu ibunya lakukan. Keesokan harinya, Negeri tersebut gempar, Pangeran semata wayang di negeri itu mengadakan pesta utuk mencari istri. Setiap gadis di negeri itu diundang, tak terkecuali. Setiap gadis di negeri itu besolek, menggunakan semua perhiasan yang mereka punya, mengggunakan gaun terindah yang mereka punya. Gadis itu tak memiliki gaun indah satupun, apalagi perhiasan? Ia hanya memiliki sepotong baju biasa, baju yang biasanya dia pakai untuk berkebun. "Aku bahkan tak punya apapun untuk menghias diriku ini.. Betapa menyedihkannya aku..", pikirnya. Namun seketika ia teringat kepada bunga violet itu. Lalu dipetiknya sekuntum, disematkan di telinganya.

Di pesta, ia hanya bisa berdiam dipinggir, gadis-gadis lain menertawakan penampilanya yang tidak menarik. Tapi, seketika harum violet menyebar ke seluruh ruangan. Setiap orang yang menciumnya menjadi bahagia. Sang pengeran pun begitu, hingga ia berkata, "Siapakah gadis yang kebaikan hatinya bahkan bisa tercium seharum ini?". Lalu sang pangeran melihat gadis itu dengan bunga violet di rambutnya. Gadis itu malu dan segera pergi, ia malu kalau harus tampil dengan baju berkebunnya itu.

Keesokan harinya, sang pangeran menitahkan pengawal-pengawal dan hulu balangnya untuk mencari rumah yang memiliki violet di tamannya. Cerita ini tak seindah yang kita bayangkan. Gadis-gadis tetangga tidak suka kalau gadis itu bersanding dengan pangeran. Tanpa sepengetahuan si gadis, mereka membabat habis violet miliknya. Sang gadis yang menemukan semua violetnya telah mati hanya bisa menangis. Ia menangisi kepergian violet-violet yang menjadi satu-satunya sahabatnya.

Malamnya, ia kembali bermimpi sosok ibunya menghampirinya seraya berkata, "Putriku, tanamlah benih di dalam kantung goni diatas pusaraku". Ketika terbangun, Gadis tadi melakukan hal yang diminta ibunya dalam mimpinya. Setiap hari, Ia menyirami benih itu. sambil bernyanyi:

Jika ini bunga..
Maka ini adalah bunga yang paling berguna untuk orang banyak..
Seperti halnya ibuku yang baik hati..

Bunga itu pun tumbuh. Ternyata bunga matahari! Kelopaknya berwarna kuning, seperti kantungnya. Bunga-bunga itu tumbuh tinggi menjulang. Hingga melebihi tinggi si gadis itu. Ia menyayangi bunga matahari itu, setiap hari ia menyiraminya dengan suka cita. Setiap ia melihat bunga itu, ia merasa bunga itu menghiburnya. Hingga suatu hari, negeri itu digemparkan dengan invasi hama binatang pengerat. Semua ladang diserangnya. Penduduk mulai ketakutan. Untungnya gadis ini cerdik, dikumpulkannya semua kwaci bunga mataharinya, hingga berkantung-kantung. Lalu diletakkanya semua kwaci itu di dekat ladang. Seluruh warga hanya bisa tertawa melihat perilakunya. Namun, tak disangka, semua binatang pengerat itu keluar dari ladang-ladang mereka berlaruan menyerbu kwaci dan memilih untuk memakan kwaci-kwaci itu. Warga pun langsung meringkus binatang-binatang itu. Sang pangeran ternyata ada ditengah-tengah keramaian itu, ia melihat kembali sosok gadis itu. Ia lalu berkata, "Siapakah gadis yang begitu cerdik hingga kecerdikannya bisa menyelamatkan kita semua?" Gadis itu pun kembali berlari karena begitu malunya ia di depan pujaan hatinya tersebut.

Keesokan harinya, sang pangeran menitahkan pengawal-pengawal dan hulu balangnya untuk mencari rumah yang memiliki bunga matahari di tamannya. Sekali lagi gadis-gadis tetangga tidak suka kalau gadis itu bersanding dengan pangeran. Tanpa sepengetahuan si gadis, mereka membabat habis bunga matahari miliknya. Sang gadis yang menemukan semua bunga mataharinya telah mati hanya bisa menangis. Ia menangisi kepergian keceriaan si bunga matahari.

Malamnya, ia kembali bermimpi sosok ibunya menghampirinya seraya berkata, "Putriku, tanamlah benih di dalam kantung katun diatas pusaraku". Ketika terbangun, Gadis tadi melakukan hal yang diminta ibunya dalam mimpinya. Setiap hari, Ia menyirami benih itu. sambil bernyanyi:

Jika ini bunga..
Maka ini adalah bunga yang penuh cinta kasih..
Dan juga menyampaikan cintaku untuk pujaanku..

Seperti halnya ibuku yang memiliki cinta kasih untuk sesama..


Bunga itu pun tumbuh. Ternyata dandelion! Kelopaknya berwarna putih, seperti kantungnya. Sayangnya dandelion memanglah bunga yang tak berumur panjang. Bunga-bunganya cepat layu dan berubah menjadi benih-benih terbang. Ternyata angin membawa benih-benih itu terbang melintasi negeri hingga sampai ke istana sang pangeran. Benih-benih itu bernyanyi:

"Ada seorang gadis yang hatinya cantik, otaknya cerdik dan penuh kasih sayang.. menunggumu.. Ikutilah kemana aku terbang dan kau akan menemukannya.."

Sang pangeran yang juga mencintai gadis itu pun segera mengambil kudanya, mengejar kemana benih itu terbang. Hingga benih itu kembali ke rumah si gadis. Sang Pangeran menemukan gadis tadi masih bernyanyi dengan suranya yang merdu sambil menyirami dandelionnya. Lalu ia langsung mengampiri gadis itu dan melamarnya. Gadis itupun menerimanya. Ada satu syaratnya untuk sang pangeran. Ia meminta sepetak kecil di pekarangan istana untuk ia bercocok tanam.

Moral cerita: Jadilah tetap sabar dan kuat walaupun kau sedang dirundung duka. Lakukan segala sesuatu dengan tulus agar bisa berguna untuk orang lain.

5 comments:

Mohammad Risyad said...

Yaaaah, ceritanya abis ya teh??
Besok ceritain lagi ya.. Asiik!!

hehehe

Kreatif juga, tapi menurut gw ya cerita dongeng tu hampir mirip lah polanya, kl ga anak nakal yg dapet hukuman atau anak baik & sabar yg dapat hadiah..
Persis kaya postingan lo sebelumnya Tom,
Hehe

Good tale..

puty said...

hua sartom, coba lo kirim ke bobo. tapi agak kepanjangan sih. edit dikit. hehehe...

aldy, aldoy, dy, al said...

kalo gue dijejelin nya doraemon tom,
makanya sekarang kayak gini, hahaha

megan arlin said...

we are dying to say a happy ending,just like the fairytale

Rintachos said...

dongengnya bagus! hehehe