Monday, May 25, 2009

Puisi yang Terlintas Saat Melamun

Manik-manik
Kecil
Berkilau
Diuntai jadi tasbih atau jadi kalung?
Jadi tasbih guna mengingat ilahi
Jadi kalung guna menghias diri yang kelewat rombeng
Jadi apa maunya?
Kulihat manik-manik di mata itu
Iri rasanya
Manik-manik
Aku mau mata itu
Mata bermanik-manik
Manik-manik
Lucu pelafalannya
Manik-manik baru akan berkilau bila ada sinar
Ah.. Saya tak mau jadi manik-manik
Saya tidak butuh sinar lain untuk jadi istimewa
Bergantung pada hal lain
Jangan begitu lah
Sinar itu harus datang dari dalam sini kan?
Kilaumu jangan dari sinar lain
Kau bisa berusaha sendiri kan?

Masih ingat ketika kita buat pesawat kertas bersama?
Kupilih kertas warna lembayung
Kau tak mau
Kau bilang kelewat sendu
Dipilihnya kertas warna merah
Aku benci warna merah
Mengingatkan akan luka yang tertoreh
Kuambil kertas merah itu dari tanganya
Kurobek jadi sobekan-sobekan kecil
Biarkan aku memakai kertas lembayung
Kutinggalkan dia sendiri ditemani sobekan
Aku bahagia denagn kertas lembayungku

Saya melihatnya
Kupu-kupu dengan sayap biru dan lembayung dengan bercak-bercak hitam
Persis kesukaan saya
Saya mencoba menangkapnya
Satu kepak
Satu langkah
Dua kepak
Dua langkah
Tiga kepak
Tiga langkah
Pergi terbang
Saya kejar
Diam
Saya mengendap
Namun saya takut menyergapnya
Khawatir sayapnya akan patah
Lebih baik digambar saja
Lebih bertahan lama

Sebuh tembok imaginer
Tak kasat mata bagi pendosa
Setiap kali kuberjalan
Selalu menabraknya
Tembok itu berpindah, pikirku
Lain hari
Aku berjalan dengan penuh awas
Sekali lagi luput
Terjerembab jatuh
Tapi tak tahu mengapa
Kuraba sesuatu yang solid
Ah lagi-lagi tembok itu
Lain hari aku berjalan berjinjit pelan-pelan
Pendengaran kupertajam
Sekali lagi luput
Terantuk hingga berdarah
Kuketuk angin di depanku
Ah lagi-lagi tembok itu
Tak kutemukan cara untuk mengelabuinya
Tak kutemukan cara untukmengelaknya
Mengapa tak berhenti jadi pendosa?

1 comment:

Anggita Aninditya said...

Bagus, Sar. Terus berkarya ya.. Gmn ITB???