Thursday, December 25, 2008

Rumah Saya Bercerita

Rumah saya yang sekarang saya tinggali ini letaknya di perbatasan daerah Rawamangun dan Cipinang. Deket sama Radio Dangdut ternama di Jakarta, Radio Muara namanya. Radio ini agaknya sagat eksis di kalangan pedangdut di Jakarta. Artis-artis aja suka banyak yang berdatangan.. Adik saya, Raihan, katanya pernah ketemu sama Syaiful Jamil di deket rumah saya.Radio Muara ini juga sering bikin acara panggung Dangdut yang cukup mengganggu karena memblokir jalan saya untuk pulang ke rumah. Cukup tentang Radio Muara.

Jadi begini, sebenernya rumah saya sih biasa saja.. namun saya menumukan bahwa rumah ini memiliki banyak cerita. Waktu saya masih tinggal di rumah (sekarang khan saya ngekos di Bandung), waktu itu pulang sekolah, saya menemukan sebuah surat. Ada cap yang menandakan surat itu berasalkan dari luar negeri. Pas Saya baca lebih lanjut, ternyata surat itu datangnya dari......... Zimbabwe

Aneh sekali bukan. Surat itu ditujukan untuk Ibu Maria Jumpeno, orang yang pernah tinggal di rumah saya, sekitar beberapa tahun yang lalu. Dan yang paling anehnya lagi ya, isi surat itu, mengajak ibu maria Jumpeno untuk berinvestasi di Zimbabwe. Oh iya.. suratnya pake bahasa inggris kok. Bukan Bahasa Zimbabwe lah.. Mana saya ngerti. Terus disurat itu di sebut-sebut Robert Mugabe, yang akhirnya sekarang baru saya ketahui adalah Presiden Zimbabwe. Nah.. lalu saya langsung ke ibu saya dengan semangat. "Mama, ini surat apaan kok aneh gini?", kata saya. Ibu saya menjawab, "Oh iya.. emang, itu gak usah diatanggepin, paling juga penipu. Ibu Maria Jumpeno itu orang kaya.. Relasi banyak.."

Pernah lagi di lain waktu, saya menemukan surat tagihan telephone. Loh kok, atas nama Taufik Ismail? Begitu pikiran saya waktu itu. Apa jangan-jangan ini Pak Taufik Ismail yang penyair itu ya?

Ya saudara-saudara. Itu Bapak Taufik yang penyair itu! Ternyata, rumah saya ini dulu, sempat jadi Kantor majalah Sastra, Horison namanya. Majalah Horison ini sempat jadi kiblat para penulis puisi, prosa, dll. Bapak Taufik Ismail merupakan ketua redaksinya kalau tidak salah. Hal yang paling lucu adalah ketika suatu hari, saya membeli buku Puisi Mbeling, karya Remy Silado. Buku puisi ini lah yang mengilhami cara penulisan puisi-puisi saya. Di prakata buku ini ditulis bahwa, Remy Silado adalah tokoh yang menolak keberadaan Majalah Horison dan karyanya tak satupun pernah dikirimkan ke Majalah tersebut. Dan saya kini orang yang bertempat tinggal di rumah yang pernah menjadi kantor majalah itu, membawa puisi karya Remy Silado ke bekas kantor Majalah Horison.

Aneh ya.. Ternyata Rumah ini.. Menyimpan banyak cerita..

5 comments:

sibudd said...

ih kewl abis tom..
dari dulu gw pengen rumah gw ada sejarahnya,,
at least duit 1 miliar dsalem koper di loteng lah..hahahha

Anonymous said...

anjirrr
rumah lo udah kyk museum aja
hahahahahahahha

Risyad said...

Gila.. Oke banged rumah lo, Tom..
hahaha
Nanti gw kirim surat deh, Kepada Ratu Rizkitasari, Program Director Radio Muara.. hahaha

Btw, ngomongin majalah Horison gw jadi inget Pak Agus.. hehe

gema satria said...

oooh jadi cerita ttg gw ngeles gambar yang akhirnya yaudah aja itu gak merupakan bagian dari sejarah rumah loo??
haha kan jarang2 ada artis numpang bajak elmu gambar d rumah loooo

hahaha
*gemagantengbgt lah

dhilacious said...

keren..
gue sih gag mungkin kek gitu.
ga punya rumah siih..
hehehehe..